Di tilang cinta lampu merah, Cerpen

By Gemaulani

Hari ini Daniel tergesa-gesa untuk berangkat
bekerja, manager dari salah satu perusahaan ternama di Jakarta, tampangnya yang
kece membuat dia dikenal oleh seluruh karyawan perusahaan terutama karyawan
wanita. Namun dibalik tampangnya yang kece Daniel termasuk orang yang pelupa
jika akan melakukan suatu hal.
            Contohnya
pagi ini, mobil yang biasa Daniel pakai ke kantor tiba-tiba rusak ketika
dikeluarkan dari garasi, akhirnya Daniel meminjam motor milik satpam rumahnya.
Daniel segera menjalankan motornya untuk menuju ke kantor, namun ketika dia
berhenti di lampu merah, Daniel malah diperintahkan untuk menepikan sepeda
motornya ke pinggir jalan dekat trotoar lampu merah oleh seorang polisi wanita
yang memakai helm.
             “Aduh, bu tolonglah bu saya udah telat ngantor
nih”
            “Lagian
salah saya apa?” protes Daniel.
            “Saudara
tidak mengenakan helm” balas polwan itu secara tegas.
            Daniel
segera meraba kepalanya “Hehehehe, maaf bu saya buru-buru tadi jadi lupa,
tolonglah bu jangan ditilang ya” pinta Daniel.
            “Tidak
bisa, anda sudah melanggar jadi anda harus ditilang” tegas polwan itu lagi.
            “Aduh
bu, jalan damai aja deh,, ibu mau saya bayar berapa?” tawar Daniel.
            “Maksud
saudara apa?”
            “Ya
damai gitu bu, nggak usah diperpanjang”
            “Masa
nggak ngerti sih, bu?” tambah Daniel kesal.
            “Anda
pikir semua orang bisa dibayar oleh uang anda?”
            “Ah
ibu, nggak usah jual mahal bu, saya tahu kok ibu sebenarnya mau, kan?” goda
Daniel.
            “Jaga
mulut anda!” tegas polwan itu dengan nada meninggi.
            “Aduh
bu jangan jual mahal deh, damai aja deh biar cepet, lagian biar ibu bisa beli
susu buat anak-anak ibu”.
            “Sekali
lagi saya tegaskan tolong jaga mulut anda!”
            Daniel
terdiam.
            “Tunjukkan
SIM, STNK, dan KTP anda!”
            Daniel
segera mengeluarkan SIM C serta KTP nya dari dalam dompet.
            “Bapak
Daniel Ramadhansyah, pekerjaaan pegawai swasta, alamat rumah dijalan Kebayoran Lama
no 50” polwan itu membacakan identitas Daniel serta mencatatnya dibuku
pelanggaran.
            “STNKnya
mana?”
            “Aduh
bu, STNKnya disatpam saya, tadi saya lupa minta karena tergesa-gesa”
            “Berarti
pelanggaran saudara jumlahnya 2, satu tidak memakai helm yang kedua tidak
membawa STNK” polwan itu kembali mencatat pelanggaran yang dilakukan Daniel.
            Daniel
mulai gelisah, pasalnya dia sudah terlambat selama 20 Menit dan meeting akan dimulai 15 menit lagi.
            “Sekarang
saudara ikut saya ke kantor!”
            “Aduh
bu, tolonglah bu, damai aja deh damai, ibu mau berapa? Saya sudah telat ke
kantor dan saya ada meeting penting
bu dikantor” tawar Daniel lagi dengan wajah memelas.
            “Saya
sudah bilang tolong jaga mulut anda!” seru polwan itu yang mulai terpancing
emosinya oleh Daniel.
            “Kalau
ibu memang tidak suka disogok kenapa ibu dari tadi memakai helm?” protes
Daniel.
            Polwan
itu pun segera melepas helmnya, dan nampaklah sosoknya yang ayu, cantik, dan
manis serta kulitnya yang bersih terawat dengan potongan rambut pendek yang
rapi persis seperti polwan-polwan cantik yang ada ditelevisi-televisi.
            Daniel
sangat takjub ketika melihat paras polwan yang sangat ayu itu. Dia terpaku dan
membayangkan polwan itu menjadi kekasihnya bahkan istrinya. Daniel kini
merasakan yang namanya jatuh cinta kepada seseorang, jatuh cinta pada pandangan
pertama dan jatuh cinta gara-gara ditilang dilampu merah.
            “Bapak
Daniel Ramadhansyah” panggil polwan itu.
            “Bapak
Daniel Ramadhansyah!” panggil polwan itu lagi dengan nada yang lebih tinggi dan
membuat Daniel tersadar dari lamunanya.
            “Briptu
Diana Putri Lestari” Daniel membaca papan nama polwan itu.
            “Mari
ikut saya ke kantor” pinta Diana.
            Daniel
pun akhirnya mengikuti Diana menuju ke kantor polisi terdekat. Setibanya disana
Diana melapor kepada atasannya tentang pelanggaran yang telah dilakukan oleh
Daniel pagi ini.
            “Dimana
orangnya?” Tanya komandan.
            “Siap
ada didepan komandan” jawab briptu Diana tegas.
            “Tolong
suruh menghadap saya” pinta komandannya.
            Briptu
Diana pun segera menghampiri Daniel sementara Daniel menatap Briptu Diana
dengan sorotan mata memuja.
            “Saudara
Daniel Ramdhansyah, mari ikut saya untuk menghadap komandan”
            “Hah?
Apa?” Tanya Daniel yang memang tidak mendengarkan perintah dari Briptu Diana.
            “Saudara
Daniel Ramadhansyah mari ikut saya untuk menghadap komandan” tegas Briptu
Diana.
            Daniel
pun segera berdiri dan mengikuti briptu Diana untuk menghadap atasannya.
            “Saudara
Daniel silahkan duduk” kata Komandan Danu.
            “Iya,
terimakasih pak” balas Daniel yang kemudian duduk dikursi yang berhadapan
dengan komandan Danu untuk dimintai keterangan.
            “Briptu
Diana silahkan melaksanakan tugasnya kembali” perintah komandan Danu
            “Siap
komandan” jawab briptu Diana sembari memberi hormat.
            “Lah
mau kemana briptu Diananya? Briptu Diananya disini saja” pinta Daniel.
            “Saudara
Daniel Ramdhansyah, saudara mau saya tambahkan kasus pelanggarannya?” tegas
briptu Diana.
            Daniel
diam membisu, dia sangat masih ingin memandang paras nan elok dari sosok briptu
Diana.
            “Briptu
Diana silahkan meninggalkan ruangan” perintah komandan Danu lagi.
            “Siap dilaksanakan komandan”
Diana memberi hormat kembali, lalu segera keluar dari ruangan itu menuju ke
pos  jaga didepan kantor.
***

Leave a Comment