Kisah Pertama dan Kedua, Tugas Keempat

No Comments

Photo of author

By Gemaulani

Tolong Dengar Aku, Ayah
            Seorang pria paruh baya sedang berjalan lamat-lamat. Sore itu sangat cerah tapi baginya
sore itu terlihat sangat mendung dan mencekam. Hatinya remuk redam, bahkan
terasa hancur berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan kecil yang terbang
disapu angin. Dia tidak pernah menyangka ini akan terjadi dihidupnya untuk
kedua kalinya. Rasa perih yang sangat mendalam itukembali muncul dibenaknya,
mengusik kehidupannya yang sedang berjalan baik-baik saja. Ia tidak pernah
mengerti dosa besar apa yang pernah dilakukannya hingga Tuhan memperlakukannya
seperti ini.
      Dia merasa menyesal atas sikapnya
yang kasar dan tidak peduli terhadap putra kandung satu-satunya. Harta berharga
yang pernah dia miliki tapi selalu tidak dipedulikan olehnya. Dia bahkan sudah
lupa kapan terakhir kalinya berbicara secara baik-baik  dengan Handi, putra semata wayangnya dengan
almarhumah ibu Jelita. Sepeninggal isterinya empat tahun yang lalu, dia berubah
menjadi sosok ayah yang arogan, keras, pemarah dan tidak peduli dengan
kehidupan anaknya yang telah beranjak dewasa.
         Kakinya sangat terasa lelah sekali.
Keringat mulai membasahi tubuhnya. Dia memutuskan untuk beristirahat dibawah
pohon yang cukup rindang, merasakan semilir angina sejuk yang menerobos masuk
ke dalam tubuhnya. Sekilas dia seperti melihat bayangan Handi muncul
dihadapannya sambil tersenyum lebar.
           Seketika dia teringat dengan
kejadian 2 tahun yang lalu ketika Handi mencoba meyakinkannya atas apa yang
telah anaknya pilih untuk masa depannya.
            “Ayah, tolong yah.. ayah dengar dulu
penjelasan Handi” kata Handi yang berusaha menjajari langkah ayahnya yang
sedang hilir mudik mencari sepatu kesayangannya.
            “Penjelasan apa lagi?” Tanya Pak
Toni dengan nada ketus
           “Handi sangat suka dengan dunia
musik, ayah… tolong yah, Handi mohon ijinkan Handi tetap bermain musik dan
berkarya dengan teman-teman Handi” pinta Handi lirih
           Dengan seketika raut muka Pak Toni
berubah mengkerut, dia sangat tidak setuju dengan hobby anaknya yang berlebihan
terhadap musik. Dia menatap anaknya itu dengan tajam. Handi merasakan hal yang
tidak enak akan terjadi.
            “Kamu, tahu berapa lama ayah
berjuang keras dari titik nol hingga sukses sekarang ini? Dan apa kamu tahu
pengorbanan apa saja yang telah ayah lakukan demi mencapai kesuksesan ini? Kamu
juga harus tahu betapa sulitnya ayah mempertahankan semua ini, apalagi
sepeninggal ibumu, wanita yang paling ayah cintai seumur hidup ayah, ayah
bekerja keras membanting tulang hanya untuk memenuhi segala kebutuhan kamu,
agar kamu tidak pernah merasakan kekurangan seperti hidup ayah dulu, hanya
karena mimpi-mimpi semu seperti yang kamu bangga-banggakan selama ini”
          “Ayah, Handi sangat mengerti ayah
berjuang sangat keras demi memenuhi segala keinginan Handi, tapi Handi mohon
yah, jangan larang Handi untuk berhenti berkarya di dunia yang sangat
Handi  cintai”
           “Kamu belum mengerti apa-apa tentang
sulitnya bertahan hidup, Handi. Persaingan kehidupan sangat keras, hanya orang
kuat yang akan mampu terus bertahan menghadapinya”
         “Ayah,, tolong yah,, Handi sangat
suka dengan yang satu ini,, ijinkan Handi untuk berhenti kuliah” pinta Handi
        “Prak” Pak Toni menjatuhkan piring
makan kesayangannya yang tertata rapi dimeja untuk melampiaskan rasa
kekesalannya. Tangannya mengepal dan batinnya terasa tercabik-cabik oleh perkataan
anaknya sendiri. Pak Toni kembali memandangi wajah Handi. Handi menunduk, dia
mengetahui kalau ayahnya mulai geram dengan permintaannya untuk berhenti kuliah
di jurusan manajemen dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk berkarya di
blantika musik tanah air.
            “Kamu sadar dengan apa yang kamu
bilang barusan!” bentak pak Toni
          “Kamu itu anak yang tidak tahu diri,
tidak tahu diuntung. Tidak bersyukur dengan apa yang bisa kamu dapatkan lebih
dari yang bisa oranglain dapatkan tanpa harus bersusah payah, ayah tidak pernah
meminta balasan dari kamu, yang ayah ingin kamu menuntaskan kuliah kamu sampai
beres dan menggantikan posisi ayah diperusahaan , ayah ingin kamu yang mengurus
dan meneruskan semua perusahaan yang kita miliki, ayah sudah terlalu tua dan lemah
untuk menangani semua perusahaan-perusahaan keluarga kita sendirian” kata Pak
Toni lagi
         “Bukannya Handi tidak bersyukur,
yah.. tapi Handi hanya ingin mengikuti kata hati Handi, Handi ingin melakukan
hal yang Handi sukai, bukan hal yang terpaksa Handi sukai, termasuk kuliah di
jurusan Manajemen Bisnis, yah”
            “Terus mau kamu apa?” Tanya pak Toni
dengan nada yang meruncing
        “Aku ingin menjadi musisi, yah,,
melahirkan banyak karya yang akan mengempur blantika musik Indonesia, yah”
jawab Handi mantap
           “Musisi itu bukan jaminan yang bagus
untuk hidup kamu, memang banyak musisi-musisi muda sekarang ini yang sukses,
tapi itu bukan jaminan kalau hidup kamu juga akan sama seperti mereka” tegas
Pak Toni
           “Handi mohon, ayah” pinta Handi
dengan sorot mata yang menunjukkan kesungguhan hatinya atas pilihannya dan
memohon agar sang ayah mengijinkannya.
          “Asal kamu tahu hidup ayah hampir
hancur akibat mimpi-mimpi untuk menjadi seorang musisi yang hebat, jangan
sampai kamu menyesal nantinya”
     “Pandangan ayah itu salah besar,
yah.. menjadi seorang musisi terkenal adalah menjadi kebahagiaan sendiri bagi
setiap orang, meskipun uang yang mereka dapat kadang tidak sepadan dengan kerja
keras mereka”
            “Lantas kenapa kamu masih mau
menjadi musisi?”
            “Karna hati, yah.. hati gak bisa
bohong untuk bilang tidak,”
            “Apa kamu yakin bisa hidup dengan
uang yang tidak seberapa?”
            “Handi sangat yakin yah, pilihan
Handi ini tidak akan salah”
     “Ayah sudah terlambat ke kantor,
Kamu harus tetap kuliah sampai tuntas dan lupakan angan-angan mu itu, menjadi
musisi bukan hal yang bagus” kata Pak Toni sembari bergegas menuju mobilnya
untuk segera sampai dikantor.
            Pagi itu pun berlalu. Dan pagi
berubah menjadi siang. Handi sejak tadi sibuk mengemasi barang-barang yang akan
dia perlukan dan mengemas pakai-pakaiannya ke dalam koper yang besar. Tekadnya
untuk menjadi seorang musisi sudah sangat bulat, siapapun tidak boleh
menghalanginya termasuk sang ayah. Laki-laki yang selalu dia banggakan dan amat
dia cintai. Handi tak bermaksud melawan, dia hanya ingin menunjukkan kepada
ayahnya, kalau dia bisa sukses menjadi seorang musisi diusinya yang baru 19
tahun.
            Hari ini pak Toni sengaja pulang
lebih awal dari kantornya.  Dia ingin
makan siang bersama anaknya yang sudah tumbuh dewasa. Wajahnya berseri dan
mengedarkan pandangannya untuk mencari sang anak semata wayangnya. Betapa
kagetnya pak Toni ketika dia melihat Handi berdiri didepan pintu dengan tas
koper besar disampingnya, dia segera menghampiri sang ayah yang baru keluar
dari mobilnya dan dia mencoba memasang wajah ramah. Karena seberapa kerasnya
pun sang ayah, dia tahu itu semata-mata demi kehidupannya.
            “Mau kemana kamu?” Tanya pak Toni
sembari menunjuk koper besar milik Handi
         “Mengikuti kata hati untuk menggapai
semua impian saya, yah” kata Handi dengan nada ringan
            “Maksud kamu apa?”
            “Seperti yang sudah Handi ungkapkan
tadi pagi kepada ayah”
        “Apa kamu sudah tidak mempunyai akal
sehat? Apa kamu sudah tidak bisa berfikir secara logika dan secara jernih, apa
kamu tidak sadar dengan apa yang kamu pilih,, ini benar-benar buruk”
            “Handi Cuma ingin Ayah tahu kalau
pandangan ayah tentang musisi selama ini adalah salah, Rumah ini memang
bagaikan istana, yah, apa yang Handi mau dan apa yang Handi inginkan pasti akan
dengan mudah bisa terwujud. Tapi Handi merasa terkurung disini, yah.. hidup
Handi rasanya kosong tak berisi apapun, Handi Cuma ingin ayah setuju dengan
keputusan Handi untuk berhenti kuliah dan mewujudkan cita-cita Handi sebagai
seorang musisi”
            “Otak kamu dimana, Handi? Kamu sudah
tidak waras dengan pilihan kamu”
            “Handi minta maaf karena telah
mengecewakan ayah, Handi minta maaf karena Handi tidak bisa memenuhi permintaan
ayah, Handi pamit, yah.. Handi akan mencoba belajar mandiri hingga suatu hari
nanti terkenal sebagai musisi hebat dan diakui oleh dunia”
            Handi melangkahkan kakinya menuju
pintu keluar tanpa keraguan apapun.
            “Kamu yakin keluar dari rumah ini?”
teriak Pak Toni
            Handi berhenti sejenak kemudian
membalikkan badannya agar bisa melihat sang ayah, lelaki yang dia kagumi, dia
cintai, dan dia banggakan.
            “Handi yakin, yah.. Handi akan
buktikan kepada ayah kalau Handi bisa sukses”
          “Ok, silahkan, tapi yang perlu kamu
ingat, jika kamu angkat kaki dari rumah ini, ayah tidak akan menerimamu kembali
dengan alasan apapun”
            Handi hanya tersenyum dan segera
meneruskan langkah kakinya. Satu bulan kemudian sejak kejadian itu, tiba-tiba
hal yang sangat tidak diduga-duga, dan tak terbayangkan sebelumnya , ketika pak
Toni menghentikan laju kendaraannya yang diberhentikan lampu merah. Dia melihat
ke sisi kanan jendela, tepat dibawah jembatan flyover itu ada sosok yang
rasanya sangat dia kenali. Dia sangat yakin dengan penglihatannya kalau dia
adalah Handi, anaknya.
          Pak Toni turun dari mobilnya dan
segera menghampiri Handi. Handi sangat kaget dengan kedatangan ayahnya ditempat
itu.
            “Ini yang kamu bilang sukss?” Tanya
pak Toni
          “Semua harus berawal dulu dari hal
yang kecil, yah… dan dari hal kecil itulah muncul kemauan dan semangat yang
sangat besar”
            “Mau berapa lama kamu bertahan
menjadi gembel dijalanan seperti ini?”
            “Sampai aku bisa membuktikan kepada
ayah kalau aku bisa sukses dengan caraku sendiri, dan membuat ayah bangga
kepada saya”
            “Sudah saya bilang kan, kamu itu
jangan terlalu berambisi dengan mimpimu untuk menjadi seorang musisi terkenal.
            “Tolong, yah.. tinggalkan aku
sendiri dan jangan mengusik kehidupan baru aku yah,  aku pasti akan menemui ayah setelah aku
sukses nanti.
            Pak Toni segera kembali masuk ke
dalam mobilnya dan bergegas pulang. Rangkaian video yang tersimpan rapi
diotaknya. Semuanya buyar karena pengemis yang sejak tadi memohon agar
diberikan uang untuk membeli makanan bagi kedua anaknya. Pak Toni memandangi
pengemis tua itu dan satu anaknya dia gendong dan satu lagi memegang erat
gagang pintu.
       Pak Toni mulai meneteskan
airmatanya, dia tidak bisa menahan kepedihan yang sangat mendalam dan mendasar
bahkan menancap dihatinya.
            “Pak,, tolong kami, kata pengemis
tua itu”
            Pak Toni masih terdiam dan kepalanya
dipenuhi bayangan anak dan isterinya.
            “Bu, laper bu… Icha laper” teriak
anak kecil dari pengemis tua itu.
        “Sabar ya, nak..kamu harus kuat,
sebentar lagi kita akan makan makanan yang lezat” balas pengemis tua itu kepada
anaknya.
          Pak Toni mulai meneteskan airmatanya
lagi, rasa pilu sangat mengikat kuat dan menyebar cepat ke  seluruh tubuhnya. Lalu dia tersadar dari
lamunannya dan segera merogoh saku celananya untuk mengambil dompet dan
memberikan sejumlah ulang kepada pengemis itu, agar kedua anaknya bisa makan.
Pengemis itu mengucapkan terimakasih banyak kepada pak Toni.
         Pemikiran pak Toni melayang kembali
kepada kenangan tentang Handi, yang begitu cepat meninggalkannya tanpa berkata
apapun. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang selalu egois dan tidak
ingin mendengarkan pendapat apapun tentang dirinya. Langit yang tadinya cerah
dengan sektika berubah gelap, tertutup awan hitam; suara petir sangat
mengeleggar, petanda hujan badai akan turun untuk menemi hatinya yang sedang
kalang kabut. Pak toni pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Setibanya dirumah dia segera membuka 
amplop yang sudah dikirimkan seminggu yang lalu dari Handi, yang belum
sempat dia buka. Perlahan dia membuka amplop itu, isinya adalah surat dan cek
honor dia sebagai musisi yang bisa dibilang cukup sukses.
            Perasaan haru menyeruak keluar dari
tubuhnya, pak Toni menyesal karena tidak mempercayai mimpi-mimpi anaknya,  dan tidak memperdulikan nasib putra semata
wayangnya hingga hal yang sangat buruk harus terjadi. Isi surat Handi sangat
menyentuh hatinya dan mengalirkan kehangatan bagi si pembaca.
      “Ayah, dengarkan aku…
sekeras-kerasnya dirimu, aku tahu engkau masih memiliki sisi kelembutan yang
bahkan lebih lembut dari ibu, bagiku ayah
adalah orangtua yang  sempurna, orang tua
yang selalu ingin anaknya bahagia. Orangtua yang sangat ingin melindungi anaknya,
orangtua yang sangat ingin melihat anaknya bahagia. Aku merasa sangat berdosa
telah memarahi ayah secara tidak sengaja, membuat ayah kecewa dengan pilihan
jalan hidupku yang arahnya masih tak menentu. Aku tahu ayah ingin memberikan
yang terbaik untuk aku. Maafkan aku yang selalu melawanmu, selalu sibuk dengan
kegiatanku hingga ayah marah besar. Dulu aku bilang kalau aku bisa sukses
sebagai musisi terkenal di tanah air, dari sabang sampai merauke. Memiliki
penghasilan yang cukup lumayan bahkan menurutku bukan lumayan lagi tapi sangat
mengejutkan. Kini aku membuktikannya lewat lembaran cek itu, ayah… terimakasih
ayah karena selama ini engkau selalu berusaha menjadi ayah sekaligus ibu yang
baik untuk aku, tolong dengarkan aku ayah,, aku sangat mencintaimu, sama halnya
ssperti aku mencintai almarhumah ibu.
            Surat itu pun terlepas dari tangan
pak Toni. Dia terduduk lemas setelah membaca surat dari anak semata wayangnya
itu yang kini telah tiada dan berada ditempat yang berbeda sangat tenor. Pak
Toni merasa mendengar lagu kesukaan Handi yang terdengar sayup-sayup.
Pak
Toni benar-benar merasa hancur dan menyesal telah menelantarkan anak semata
wayangnya, hanya karna keegoisan dan kearoganannya.
            Keesokan harinya mata pak toni
terlihat sayup, kantung matanya besar dan menghitam, itu diakibatkan oleh
pikirannya yang tidak tenang juga rasa bersalah yang begitu besar terhadap anak
laki-laki satu-satunya. Dengan wajah lesu, dia mencoba menikmati sarapan
paginya, semua makan yang masuk ke tenggorokannya terasa hambar. Dia seperti
melihat Handi tersenyum dihadapannya sembari bercerita tentang musik,
keinginannya untuk terjun kedunia musik memang besar, tapi pak toni tidak
pernah berkomentar apapun.
            Pekerjaan Pak Toni dikantor menjadi
sangat berantakan.  Dia tidak bisa Fokus
dengan hal yang sedang dikerjakannya., Hari itu Pak Toni pulang lebih awal, dia
mengendarai mobilnya menuju ke tempat peristirahatan terakhir bagi semua umat
manusia.dia membawakan satu bucket bunga dan bunganya adalah bunga melati,
bunga kesukaan Handi. Pak Toni terduduk lemas disamping pusara Handi. Tangannya
mengelus-elus batu nisan bertulisan nama Handi Purnama. Pak Toni menaburkan
kembali bunga-bunga diatas pusara Handi. Pikirannya menerawang jauh ke depan,,
segala penyesalan menyelimuti dirinya, dadanya serasa sesak karena dipenuhi
rasa penyesalan. Kalau saja dia tidak egois pada Handi, pasti tidak akan begini
jadinya.
       Masih terngiang ditelinganya ketika
Handi memanggilnya dan meminta agar pak Toni mendengarkannya bicara, masih
terlukis jelas raut wajah dengan rona bahagia yang tidak pernah diubah oleh
Handi sekecewa apapun dia. Beberapa hari sebelum dia menghembuskan nafas untuk
terakhir kalinya, setelah lega bisa melihat sang ayah menjemputnya dirumah
sakit walau hanya sekejap tapi Handi merasa cukup dengan bisa melihat sang ayah
sebelum dia pergi untuk selama-lamanya dari dunia yang fana ini.
            “Tolong dengarkan Handi, Ayah, Handi
ingin ayah datang diacara launching album band Hadi besok malam,, karena tanpa
ayah, aku bukan apa-apa dan aku bukan siapa-siapa, ayah” pinta Handi yang waktu
itu menemui ayahnya dikantor , 5 hari sebelum konser perdana dan launching
album dari bandnya diadakan.
           Pak Toni hanya terdiam, tubuhnya
terasa kaku dan bibirnya terasa kelu, tak mau mengeluarkan kata-kata yang sewajarnya.
Handi menatap ayahnya dengan sangat lekat.
            “Tolong dengarkan aku, ayah
dengarkan aku bernyanyi, dengarkan karya-karya yang selama ini aku buat,
mungkin ini permintaan aku yang terakhir untuk ayah, aku tidak akan meminta dan
menuntut macam-macam lagi dari ayah. Aku sangat menyayangi ayah sama halnya
dengan aku menyayangi almarhumah Ibu”
            Lagi-lagi keadaan hening ketika
Handi selesai berbicara dan memohon kepada ayahnya agar datang dan melihat
penampilannya.
        “Sekali lagi Handi mohon, Tolong
dengarkan aku, ayah.. aku hanya ingin orang yang aku sayangi, orang yang aku
hormati, dan satu-satunya orangtua yang masih aku miliki, laki-laki hebat yang
berdiri dihadapanku, yang berusaha dengan keras demi menghidupi keluarganya
agar berkecukupan bahkan lebih dari cukup” kata Handi lagi
         “Kamu kan sudah sukses dengan
jalanmu sendiri dan jerih payah kamu sendiri, kamu telah berhasil dengan ujian
hidup kamu,, sekalipun ayah tidak menyukai bidang yang kamu tekuni, tapi ayah
sangat bangga pada putra ayah satu-satunya, yaitu kamu Handi, semoga karirmy
semakin meroket dan selalu cemerlang” kata Pak Toni dengan tulus menyatakan itu
dari dalam lubuk hatinya.
            “Jadi ayah mau, datang kan?” Tanya
Handi yang seperti mendapat pompaan semangat baru, matanya berbinar-binar layaknya
anak kecil yang diberi hadiah oleh orangtuanya.
            “Akan ayah usahakan, tapi ayah tidak
janji karena ada meeting bersama perusahaan pak Budi “
            “Terimakasih banyak ayah,  walaupun waktu ayah tidak banyak, tapi pasti
dengan kehadiran ayah disana, aku akan lebih bersemangat lagi” kata Handi yang
kemudian pergi meninggalkan ayahnya yang masih banyak pekerjaan diperusahaan
miliknya sendiri
            Pak Toni melirik tiket konser yang
diletakkan Handi dimeja, khusus untuk ayahnya tercinta. “Kamu berhasil
menunjukkan kalau kamu bisa sukses meraih Impianmu, nak.. ayah bangga.. bahkan
sangat bangga sama kamu, ibumu juga pasti akan turut bangga dengan keberhasilan
yang kamu raih sendiri, lewat kaki dan tangan kamu”. Airmata mulai merembes
dipipinya, mengalir secara tiba-tiba, pak Toni sangat terharu dan tergugah
dengan kesungguhan putra semata wayangnya. 
          Dengan langkah mantap dan ringan
Handi merasa bebannya terlepas dan hilang seketika setelah iya berhasil
mengutarakan semuanya pada sang ayah, terlebih lagi ayahnya akan berusaha untuk
meluangkan sebentar waktunya dan melihat dia tampil.
            Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba,
Handi mulai merasa gundah dan resah karena waktunya 10 menit lagi sebelum dia
dan kawan-kawannya meluncurkan album perdana mereka dan bernyanyi untuk para
hadirin yang datang diacaranya kali ini.
            “Ayah, ayah dimana?” teriaknya dalam
hati
            Ditempat lain pak Toni juga sedang
gelisah. Meetingnya juga belum usai, sesekali dia melirik jam tangan peraknya
dan menghitung waktu yang tersisa untuk datang melihat anaknya. Dan pada
akhirnya Handi harus menelan pahit itu dalam-dalam. Sang ayah tidak datang
sesuai janjinya. Perasaan kecewa sangat membekas dihatinya. Batinnya bergolak
“Ayah, aku hanya minta satu menit saja, untuk ayah melihat aku, bagiku itu sudah
cukup, tapi ayah mengingkari janji ayah, aku kecewa pada ayah, tapi aku tetap
tidak bisa membenci ayah, walaupun ayah selalu menentang apa yang aku pilih
didalam hidupku”. Gumamnya dalam hati.
            Beberapa saat setelah bandnya tampil
dihadapan berjuta penonton dan para pendukungnya, tiba-tiba tubuh Handi roboh,
dia tersungkur ke lantai. Personil lain sontak kaget dan segera mengambil
tindakan agar nyawa Handi bisa terselamatkan. Tapi Tuhan berkehendak lain, dan
mempunyai rencana yang lebih indah untuk Handi. Detik-detik menjelang kepergian
Handi untuk selama-lamanya mulai terasa. Semakin dekat. Handi semakin susah
mengatur nafasnya, sedari tadi dia terus berkata “ ayah”. Akhirnya orang yang
ia nanti-nantikan datang melihatnya, dan saat itulah Handi dengan tenang
menghembuskan nafas terakhirnya, pergi ke kehidupan yang sesungguhnya,
menghilanh dari dunia yang sangat fana ini.
            Pak Toni menggeserkan badannya dan
semakin dekat dengan batu nisan Handi, dia berdo’a dengan khusyu dan memohon
kepada Tuhan agar selalu melindungi anaknya dialam sana. “Semoga kamu bisa
bertemu mama mu, nak,, sampaikan salam ayah kepadanya, dan permintaan maaf ayah
yang sebesar-besarnya karena ayah telah gagal menjaga supermannya.” Ayah pasti
akan sangat merindukkan sosok ceria kamu dan kegigihan kamu untuk berjuang
dalam kehidupan yang keras ini dan pada akhirnya kamu berhasil, nak.. hanya
saja, waktu untuk kamu menikmatinya sangat singkat, hanya dalam hitungan menit
kamu melepaskan semua yang kamu bangun dengan susah payah dari nol besar hingga
melahirkan karya-karya yang sangat indah” bisik ayahnya didalam hati.
            Pak Toni hanya bisa meratapi apa
yang telah terjadi dan menjadikan itu sebagai pelajaran berharga dihidupnya
agar dia lebih menghargai orang-orang yang ia sayang dan lebih meluangkan waktu
lagi untuk orang-orang terkasihnya. Pak Toni merasakan kakinya sungguh berat
untuk meninggalkan Handi sendirian disana. Tapi apa hendak dikata, ‘Nasi telah
menjadi bubur’ ungkapan yang tepat bagi dirinya yang tak bisa mengembalikan
waktu serta mengembalikan Handi untuk berada disampingnya. Dengan berat hati
sekali lagi dia meninggalkan pusara sang buah hati tercinta, sampai saat ini
hidupnya penuh penyesalan dan dia merasa telah mengecewakan almarhumah
isterinya yang menitipkan putra mereka satu-satunya untuk ia jaga, tapi dia
lalai dan akhirnya harus merelakan kembali kepergian orang yang dia kasihi.

Sepotong Hati
yang Kembali



            Seorang gadis bernama Chacha sedang
duduk sendiri di café dikawasan Dago, Bandung. Sesekali dia melirik jam tangan
berwarna ungu kesayangannya. Degup jantung berdetak semakin kencang,
perasaannya mulai tak menentu sejak satu jam lalu. Perasaannya kali ini sangat
mirip dengan perasaan yang dia rasakan saat pertama kalinya iya merasakan jatuh
hati pada kakak kelasnya yang bernama Chicko. Perasaan yang muncul sejak
pertama kali mereka bertemu di masa orientasi siswa baru, dan Chicko berperan
sebagai pendamping kelompok Chacha dan teman-teman barunya yang lain. Kini tak
terasa sudah hampir bertahun-tahun mereka menjalani hubungan jarak jauh,
terpisah jarak, ruang dan waktu.



            Meskipun begitu mereka tetap setia menjaga
hati pasangannya. Chacha sangat percaya kepada Chicko, begitupun sebaliknya,
Chacha mencoba menyibukkan diri dengan membaca daftar menu. Dia berusaha
menyembunyikan perasaan gundahnya. Chacha terperanjat ketika melihat orang yang
paling spesial itu muncul dihadapannya dengan senyum yang sama seperti dulu,
saat mereka mulai merajut asa, mengecap pahit manisnya asmara.


            “Hai, Emon…” Sapa Chicko sembari
mengelus-ngelus rambut orang yang dia sayangi

       Chacha tersenyum simpul, dan
merasakan kehangatan dari jemari Chicko di setiap helai rambutnya dan menyusup
masuk ke dalam lubuk hatinya.
            “Hai, Toto” balas Chacha
        Emon dan Toto adalah panggilan
sayang Chacha dan Chicko, Emon di ambil dari kata Doraemon. Tokoh kartun favorit
chacha sejak dulu. Sedangkan Toto diambil dari kata Naruto, tokoh kartun
kesukaan Chicko. Sejak kelas 2 SMA, mereka harus menerima kenyataan terburuk,
yaitu terpisah Benua tempat mereka tinggal. Chicko harus mengikuti keluarganya
yang pindah ke Australia. Sejak saat itulah mereka belum pernah bertemu lagi
secara langsung. Hanya Telpon, Facebook, Twitter, YM, Google+ yang mereka
gunakan untuk saling berkomunikasi setiap harinya, itupun kalau Chicko memiliki
waktu luang ditengah kesibukkannya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang
sibuk menyusun skripsinya. Barulah pada libur semester kali ini Chicko
diijinkan untuk berlibur ke Indonesia. Dan kesempatan ini Chicko manfaatkan
untuk bertemu sang pujaan hati yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun.
            “Long time no see Toto, sekarang
Toto tambah tinggi, kelihatan dewasa juga dan..” Chacha tak meneruskan
kata-katanya.
            “Dan apa hayoo?” goda Chicko
            Chacha hanya terdiam, mata, hati dan
pikirannya sedang terfokus kepada Chicko yang kini duduk dihadapannya. Chicko
meraih kedua tangan Chacha, kemudian mencium tangan Chacha dengan penuh
kehangatan dan kelembutan. Chacha hanya termangu dan tetap menatap Chicko
dengan kedua matanya.
            “Gak ada yang berubah,kan Sayang?”
Tanya Chicko lirih
            “Tentu saja ada” gumam Chacha
        Chicko sangat kaget mendengar
jawaban Chacha, rasa bimbang menyelimuti perasaannya. Berjuta pertanyaan mulai
muncul dibenak Chicko. “Apa yang berubah? Apa perasaan kamu sama aku berubah?
Apa ada yang membuatmu jatuh hati lagi? Apa posisi aku dihati kamu akan
tergeser? Kenapa kamu lakuin ini semua sama aku?”. Chicko mulai menatap Chacha
dengan pandangan tajam. Sorot matanya ingin mengatakan sesuatu.
            “Kok mandanginnya gitu? Kenapa? Aku
cantik ya?” Goda Chacha sambil tertawa geli
            Chicko tidak menjawab pertanyaan
usil Chacha. Dia tetap fokus memandang wajah Chacha. Kemudian dia melepaskan
genggaman tangannya yang tadi mengenggam kedua tangan Chacha
            “Toto.. are you ok?”
         “Aku gak nyangka, kalau semua
pengorbanan aku, kesetiaan aku, kepercayaan yang aku berikan sama kamu, dan
ketulusan dari hati aku buat kamu, juga kerinduan yang aku pendam
bertahun-tahun harus sirna begitu saja dengan penghianatan kamu” gumam Chicko
           Betapa kagetnya Chacha mendengar
ucapan Chicko yang menyudutkannya dan menuduh yang tidak-tidak terhadapnya,
apalagi memvonisnya sebagai seorang penghianat. Hati Chacha yang tadi bagaikan
langit cerah berwarna biru yang sejuk dipandang tanpa ada penghalang apapun,
kini tiba-tiba berubah mendung, ditutupi awan-awan hitam, ditemani petir yang
mengeleggar dan siap menurunkan hujan dengan deras.
            “Maksud kamu apa?”
           “Kita udah sama-sama dewasa, pasti
kamu bisa mencerna maksud kata-kata yang aku berikan”
            “I don’t understand, Chicko” ucap
Chacha lirih dan berusaha menahan airmatanya agar tidak jatuh
           “Rasanya percuma aku ngejalanin
hubungan yang dipertahanin bertahun-tahun sama kamu, gak ada artinya dan gak
ada gunanya, janji tinggal janji, semuanya omong kosong”
            “Coba kamu bayangin aku bela-belain
dateng ke Bandung Cuma buat merasakan kepedihan hati atas luka yang kamu
torehkan baru saja, aku menyesal telah menyayangi orang yang salah” tambah
Chicko
            “Aku bener-bener gak ngerti apa yang
kamu bicarakan, dan kenapa kamu terus bilang kalau aku nyakitin perasaan kamu,
nyakitin hati kamu, ngehianatin kamu”
            “Mungkin dimata kamu aku masih anak
kecil yang kekanak-kanakan, selalu merengek dan memohon kamu untuk pulang dan
menemui aku, memohon agar kamu selalu ada disamping aku, menemani setiap
langkah kakiku yang terasa hampa tanpa kehadiran kamu, aku selalu ingat dengan
kata-kata kamu yang selalu membuatku terbang bebas ke angkasa, kata-kata kamu
yang penuh ketulusan, kata-kata kamu yang selalu membuatku jatuh hati dan
menyayangi kamu entah sampai kapan, mungkin sampai akhir hayatku nanti” ucap
Chacha dengan mata berkaca-kaca
            Chicko tertawa samar “Sejak kapan kamu
pinter bohongin orang dengan bersandiwara?” cela Chicko
            “Cukup Chicko, mau kamu apa?kamu
berubah jadi orang asing yang tidak aku kenal”
            “Kamu yang berubah, kamu bilang
semuanya udah gak sama lagi kayak dulu”
         “Semuanya emang gak sama lagi kayak
dulu, kayak beberapa tahun yang lalu, karena semuanya telah berubah, Chicko..
tapi ada hal yang tak pernah berubah dan akan selalu sama sampai kapanpun itu,
perasaan dan hati aku yang gak akan pernah berubah untuk kamu, hati aku selalu
aku jaga untuk kamu, hanya kamu, gak ada yang lain. aku gak tahu itu sampai
kapan, tapi hingga saat ini hati dan rasa sayang aku selalu untuk kamu, cinta
pertama dan kalau boleh aku memohon kepada tuhan, aku ingin kamu jadi cinta
terakhirku” kata Chacha yang sudah tidak kuasa menahan kepedihan hatinya,
airmata mengalir deras dipipi Chacha, berjuta kerinduannya pada Chicko kini
rasanya sirna dalam sekejap.
Chacha
beranjak dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan Chicko. Chicko baru
menyadari kalau apa yang dia pikirkan atas jawaban Chacha yang berkata Tentu
saja ada itu adalah kesalahan besar yang sangat menyakiti perasaan Chacha.
Chicko bangkit dari tempat duduknya, kemudian segera mengejar Chacha dan
akhirnya berhasil meraih tangan Chacha. Chicko menarik tangan Chacha dan mendekap
tubuh mungil Chacha didalam pelukannya. Chicko merangkul tubuh Chacha semakin
erat, seolah berisyarat dia tidak ingin kehilangan orang yang sangat istimewa
untuknya, penghuni dan pemilik hatinya.
Chacha
masih menangis didalam pelukan Chicko, batinnya teralu perih dengan semua
tuduhan Chicko terhadapnya. Badannya terasa sangat kaku, Chicko sangat merasa
bersalah, dia mencoba menenangkan pujaan hatinya, Chicko mengelus-elus rambut
Chacha yang sangat lembut seperti rambut bayi, kemudian sesekali menciumnya,
Chicko menumpahkan segala kerinduan yang ia simpan bertahun-tahun.
“Maafin
aku, Cha.. aku tahu aku salah, aku menuduh kamu melakukan hal yang tidak-tidak,
hanya karna aku salah mencerna jawaban kamu” bisik Chicko
Isak
tangis Chacha mulai mereda, matanya terlihat sayup, Chicko kemudian mengecup
kening Chacha dengan lembut dan penuh ketulusan. Chicko melepaskan pelukannya,
kemudian memegang kedua bahu Chacha dan memandang lurus ke arah Chacha. Mereka
saling bertatapan. Chicko mengajak Chacha ke tempat duduk mereka yang semula.
Chacha pun duduk dan kini Chicko beralih tempat duduk ke samping Chacha. Chacha
merasa mulai lelah. Dia menyandarkan kepalanya dibahu Chicko.
“Begitu
lama aku berharap, begitu lama aku memohon kepada Tuhan agar kamu datang untuk
menemuiku, selalu ada disampingku selamanya.. aku hampir putus asa ketika kamu
menghilang beberapa minggu di jejaring sosial, tanpa kabar apapun, hatiku
rasanya hancur berkeping-keping menjadi butiran debu yang siap tersapu oleh
angin dan menghilang diudara” ucap Chacha pelan
“Maafin
aku, Emon.. aku minta maaf karna sudah membuat kamu lelah berharap dengan semua
janji-janji aku,, Aku saaaaaaaaaayaaaaaaaaaaaang banget sama Emon”
“Hampir
setiap pulang sekolah, pulang kuliah, weekend, aku pasti kesini cuma buat kamu…
Lebih tepat bayangan kamu yang setidaknya bisa membuatku tersenyum dan
membayangkan kamu memang ada disampingku dan tersenyum bahagia”
“Sekali
lagi aku minta maaf, baru kali ini aku bisa nepatin janji aku sama kamu, maafin
aku Emon” Chicko mengecup kening Chacha dengan penuh perasaan dan kelembutan,
juga ketulusan
Chacha
mulai menitikkan airmatnya lai. Betapa tidak, sekarang orang yang sangat iya
sayangi dan sangat ia rindukan selama bertahun-tahun kini benar-benar nyata
hadir dihadapannya dan memberikan warna baru bagi kehidupan nyatanya. Selama
ini Chacha merasa kalau Chicko hanyalah pangeran negri dongengnya yang susah
untuk ia sentuh dengan jemarinya. Chicko menghapus airmata yang jatuh dipipi
Chacha dengan kedua tangannya. Dia mengelus-ngelus rambut Chacha dengan
hati-hati dan penuh perasaan.
“Inget
gak waktu pertama kali kita ketemu dan disaat itu juga cinta hadir diantara
kita” bisik Chicko didekat telinga Chacha
Mulai
terlihat senyum simpul dibibir Chacha, kepalanya mendongak ke arah Chicko.
“Kamu
masih anak ABG,, rambut kamu dikuncir 5, 
dipakein pita warna warni, kalung bawang putih sama cabe merah, topi
dari  batok kelapa yang dicat pink,
sepatu beda warna, tas dari karung terigu dan name tag berukuran lumayan besar
tergantung didada dengan nama ‘Siput’” tutur Chicko yang memutar kembali moment
pertemuan pertama mereka dan disanalah cinta mulai bersemi.
“Dan
Toto disuruh menghukum aku waktu aku kelamaan ijin ke toilet,, Toto nyuruh Emon
buat push up, tapi Toto tidak tega terus ngeganti hukumannya sama ngelukis muka
aku pake Spidol sampe kayak kucing terus nyuruh aku nyanyi sama joget didepan
temen-temen dan kakak-kakak panitia ospek lainnya”.
Mereka
berdua pun tersenyum, Chicko segera meraih tangan kanan Chacha dan memegangnya
dengan erat. Jantung Chacha berdetak semakin kencang, dia tidak dapat
melukiskan kebahagiaannya saat ini. Mereka seperti ada digedung bioskop dan
siap untuk memutar film momen-momen indah mereka bertahun-tahun yang lalu.
“Dari
mana aja, kamu?” bentak Chicko
“Sa…
saya dari toilet, kak” balas Chacha terbata-bata
“Kayaknya
besok-besok kamu mesti bawa toilet kemana-mana biar gak lama” tambah panitia
yang lain
“Ngapain
aja di toilet?dandan kamu? Ngerasa paling cantik? Mau jadi model disini?”
bentak Chicko lagi
“Nggak,
kak” balas Chacha dengan penuh ketakutan
“Nama
kamu sesuai ya sama orangnya, sama-sama lelet!”
“Push
up 3 seri kamu!” perintah Chicko
Chacha
sudah bersiap dalam posisi push up, tapi tiba-tiba Chicko merasa kasihan
kepadanya bila harus melakukan push up, akhirnya Chicko berusaha memutar
otaknya dan mencari alternative hukuman lain untuk Chacha.
“Eh,
tunggu.. kalo hukumannya push up, kayaknya biasa aja.. gak aneh.. mendingan
kamu sekarang berdiri, terus nyanyi potong bebek sambil bergaya kayak bebek!”
perintah Chicko
Chacha
berdiri ditengah lapangan dan bersiap menjalani hukumannya. Dia beberapa kali
harus menelan ludah dan bersabar dengan tertawaan teman-teman serta kakak
panitia lainnya.
“Cepetan
woy!” teriak Chicko
“Potong
bebek angsa, angsa dikuwali, nyonya minta dansa, dansa empat kali, sorong ke
kiri, sorong ke kanan, lalala lala lala lala” sambil bergaya ala bebek.
Chicko
berusaha menahan tawanya, dia tersenyum geli melihat Chacha menjalani
hukumannya. Chacha pun kembali ke barisan. Pada saat itu adalah jam makan siang,
para siswa baru diperintahkan untuk memakan bekal mereka. Chicko yang berperan
sebagai ketua pelaksana memperhatikan semua siswa baru dengan seksama. Dan
tanpa disengaja pandangannya terfokus ke satu kelompok, dimana ada bidadari
pujaan hatinya. Chicko mulai merasakan hal yang telah lama ia kubur
dalam-dalam, dan akhirnya harus mencuat kepermukaan, dia merasakan jatuh hati
kepada adik kelas yang sedang dia ospek, yaitu Chacha.
“Gimana
makannya?” Tanya Chicko kepada Chacha
“Enak,
kak.. kakak mau?” Tanya Chacha dengan gugup
“Suapin
dong kakaknya!” perintah Daniel yang berniat mengerjai Chicko karena Daniel
merasa ada radar-radar tidak beres dari temannya itu.
Chicko
dan Chacha mulai salah tingkah. Ternyata keduanya merasakan atmosfer yang sama
yaitu jatuh hati. Chacha mengambil sedikit nasi dan lauknya dengan sendok lalu
mengangkatnya dan mendekatkannya pada mulut Chicko. Dengan refleks Chicko
membuka mulutnya. Satu sendok makanan pun berhasil mendarat dimulut Chicko.
“Ciyeeeeeeeeeee..
swit swit” goda panitia lainnya
Muka
Chacha berubah bersemu merah padam. Badannya terasa panas dan jantungnya seakan
berhenti berdetak. Semua pandangan seolah tertuju kepadanya dan Chicko. Chacha
mengakui kalau Chicko adalah seniornya yang paling tampan.
Dihari
ketiga para siswa baru disuruh membuat surat cinta untuk kakak panitia yang
paling mereka sukai. Dan bertumpuklah surat cinta untuk Chicko. Dan setiap
panitia yang mendapatkan surat cinta dari adik-adik yang mereka ospek, mereka
harus memilih salah satu suratnya. Dan hati Chicko memilih surat dari Chacha.
“Untuk
kakak-kakak yang telah memilih surat pemberian dari adek-adeknya, silahkan
membacakan isi suratnya” perintah Mitha selaku ketua bagian acara.
Satu
persatu dari para panitia maju dan membacakan surat yang mereka pilih, dan
tibalah Chicko yang maju ke depan.
Untuk kak Chicko
Senyummu sehangat Mentari pagi yang baru saja muncul
untuk menyinari bumi
Kemarahanmu seperti wujud perhatianmu yang lebih
kepadaku
Suaramu semerdu alunan musik klasik yang menenangkan
hatiku
Berkatmu aku tidak takut menghadapi dunia
Berkatmu aku belajar tidak manja dan lebih dewasa lagi
            Dan
aku merasakan hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya,, aku jatuh hati
padamu, pangeranku..
                                                                                    Dari
: Chacha Agustine
            Muka Chacha berubah menjadi sangat
merah, dia bagaikan tomat yang baru saja matang dari pohonnya, dia merasakan
malu yang luar biasa ketika sang pujaan hati membacakan suratnya. Rasanya
Chacha ingin menggali tanah sangat dalam dan ingin bersembunyi dilubang itu.
Semua orang menertawakannya. Chacha pun akhirnya berlari menuju ke arah toilet
untuk menenangkan dirinya, Chicko yang melihat itupun segera mengejarnya.
Chicko berhasil meraih tangan Chacha dan menariknya hingga tubuh Chacha kini
berada dalam pelukannya. Detak jantung keduanya kini berdetak semakin cepat.
Mata Chacha terpejam dan tanpa disadari Chicko mencium kening Chacha.
            “Maafin aku, karna sudah lancang”
ucap Chicko sembari melepaskan pelukannya
        “Aku yang seharusnya minta maaf,
kak.. karena sudah lancang membuat surat cinta untuk kakak”
            “Kamu gak salah,, itu kan memang
ditugaskan oleh panitia” balas Chicko
            Chacha hanya terdiam dan pipinya
masih terlihat merah, karena malu.
            “Mending sekarang kamu kembali ke
kelompok kamu” perintah Chicko
           Chacha pun mengangguk dan segera
kembali ke barisan kelompoknya. Chacha dan Chicko tidak akan pernah bisa
melupakan kejadian yang secara spontan terjadi baru saja. Keesokan harinya
adalah hari terakhir ospek, dan pada acara puncak masa orientasi siswa baru,
Chicko merencanakan akan menyatakan perasaannya kepada Chacha. Chicko merancang
semuanya bersama panitia lainnya.
         Semua panitia dan peserta malam itu
berkumpul di aula sekolah, dan para siswa baru dinyatakan lulus ospek. Setelah
pengumuman itu Chicko segera mengambil posisi duduk dihadapan piano. Dengan
jemarinya, dia segera memainkan sebuah lagu dari band J-Rocks yaitu Fallin in
love sembari menyanyi. Semua perhatian tersedot oleh permainan dan suara Chicko
yang sangat mengagumkan.
            Riuh tepuk tangan diberikan oleh
semua yang hadir di sana untuk Chicko, tapi yang tak bisa dipercayai adalah
ketika Chicko berkata : “lagu tadi saya persembahkan untuk pujaan hati saya,
bidadari mungil yang memiliki magnet luarbiasa sehingga hati saya memutuskan
untuk memilihnya, dia adalah Chacha Agustine”.
            Chacha merasa tidak percaya dengan
apa yang baru saja didengarnya dari pengeras suara. Semua orang mengalihkan
pandangan mereka kepada Chacha. Chacha menjadi salah tingkah, mukanya bersemu
merah dan jantungnya seakan-akan berhenti berdetak. Chicko berjalan
menghampirinya dan tepat dihadapannya Chicko jongkok dan membawakan setangkai
bunga mawar putih juga boneka Doraemon. Tokoh Kartun favorit Chacha.
            “Maukah kamu menerima saya sebagai
pasangan hati kamu?”
            Chacha menarik nafas panjang. Dia
mempertimbangkan jawaban yang akan dia berikan kepada Chicko. Chicko menunggu
jawaban dari bibir Chacha dengan perasaan was-was, begitupun anak-anak lainnya
yang tak sabar dengan jawaban yang akan diberikan oleh Chacha. Sungguh tak ada
satupun orang yang akan menyangka kalau Chacha menganggukan kepalanya tanda
bahwa dia menerima Chicko sebagai pemilik hatinya. Senyuman bahagia terpancar
dari wajah keduanya.
            Setelah hampir menjalin kisah asmara
selama 4 bulan lamanya, kenyataan pahit harus dihadapi keduanya. Chicko harus pindah
mengikuti kedua orangtuanya ke Australia dan dengan berat hati harus
meninggalkan Chacha yang sangat disayanginya. Sebelum kepergiannya menuju ke
pesawat yang akan membawanya terbang jauh dari samping Chacha, Chicko memeluk
pujaan hatinya dengan sangat erat dan sesekali mencium keningnya. Chicko
menghapus airmata yang jatuh dipipi Chacha dengan kedua tangannya. Sungguh
Chicko sebenarnya sangat merasa keberatan dengan keadaan itu. Chacha merasa
separuh jiwanya pergi dan sepotong hatinya lenyap. Tapi Chicko berjanji akan
tetap setia kepada satu nama dan satu hati yaitu Chacha, begitupun Chacha.
            Detik demi detik, menit demi menit,
jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi
tahun hubungan mereka tetap berjalan meskipun terpisah jarak, ruang dan waktu.
Chicko selalu berjanji untuk datang ke Bandung setiap libur semesternya tapi
semua itu hanya janji yang selalu berakhir dengan pahit karena pada akhirnya
Chicko tidak bisa menepatinya dengan berbagai alasan.
            Dan hari inilah ujung dari semua
pengorbanannya selama bertahun-tahun yang tetap setia mengharapkan Chicko untuk
datang menemuinya. Api asmara yang mulai redup kini kembali berkobar, Chacha
merasakan separuh jiwanya kembali dan sepotong hati yang lenyap itu kembali muncul
dan bersatu kembali dengan hatinya yang tertinggal separuh lagi.
            Pagi-pagi sekali Chacha berangkat
dari rumahnya untuk menuju ke café tempat favorit mereka dulu. Mengharapkan
kehadiran Chicko secepatnya dengan sejuta perasaan yang terpendam untuknya. Dimeja
yang sama dan dengan perasaan yang sama, Chacha merasa semangatnya terpacu
lagi.. hingga kini dia bisa bersandar dibahu orang yang sangat dia sayangi.
            “Jangan pergi lagi, untuk ninggalin
aku, ya?” pinta Chacha
            “Hanya butuh waktu 2 bulan lagi,
Emon.. kita pasti akan selalu bersama didalam suka dan suka tanpa terpisahkan
oleh apapun lagi” ucap Chicko pelan
            “Kamu mau ninggalin aku lagi?” Tanya
Chacha
            “Ini Cuma sementara sampai skripsi
aku disidangkan dan aku wisuda” gumam Chicko
            “Aku baru saja merasakan sepotong
hatiku kembali tapi aku kemudian harus merelakkannya pergi jauh lagi dariku?”
Tanya Chacha
            “Jarak sejauh apapun tak akan pernah
mengubah rasa sayang aku sama kamu”
            “Aku tahu dan percaya itu, Toto..
tapi aku tidak mau merasakan kesepian dan kepedihan lagi tanpa ada kamu
disamping aku” Chacha mulai terisak
            “Ini gak akan seperti bertahun-tahun
yang lalu , sayang… Emon harus percaya sama Toto.. Toto gak akan ingkar janji
lagi sama Emon” Chicko mencoba menenangkan Chacha.
            Tiba-tiba Chacha memeluk tubuh
Chicko dengan sangat erat dan menangis dipelukan Chicko lagi. Dia menumpahkan
segala kerinduan yang sudah bertahun-tahun dia pendam. Kerinduan yang memenuhi
semua ruang kosong dihidupnya hingga ia sulit bernafas dengan bebas. Chicko pun
membalas pelukan Chacha,  dia juga
menumpahkan semua kerinduan yang tersimpan sejak bertahun-tahun yang lalu.
            “Sampai kapanpun perasaan ini akan
tetap sama, Emon.. hati ini udah aku kunci untuk kamu dan hanya bisa terbuka
oleh kamu” bisik Chicko
            “Aku percaya Toto,, aku sayang
banget sama Toto.. aku akan kembali merelakan Toto pergi dan setia sampai Toto
kembali kesini, ke tempat ini”
          “Makasih banyak Emon,, hati aku
memang tak salah telah memilih kamu sebagai penghuninya, You  the most perpect girl form me”
            “Sepotong hati yang kamu bilang itu
sebentar lagi akan utuh dan tak akan terpisahkan oleh apapun itu” gumam Chicko
            “I believe it, Toto”
            “Ya.. You must believe it, Emon”
balas Chicko
         Beberapa hari kemudian masa berlibur
Chicko di Bandung telah habis. Dia harus kembali terbang ke negeri kangguru itu
untuk menyelesaikan kuliahnya. Dan Chacha harus kembali menyelami
kesendiriannya tanpa Chicko, meskipun begitu dia berjanji akan setia hingga
Chicko kembali menemuinya ditempat yang sama dengan perasaan yang sama beberapa
hari yang lalu. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi, saling mengerti satu
sama lain, kisah asmara yang meledak-ledak akan tetapi selalu abadi selamanya.
Hingga potongan hati mereka bersatu kembali.

 

Leave a Comment