Resolusi, Hujan dan Kebersamaan

No Comments

Photo of author

By Gemaulani

Desember itu bulan kedua belas atau terakhir dalam satu tahun. Di mana penantian dan harapan baru di tahun berikutnya akan segera dimulai. Di mana flashback kegiatan dalam satu tahun harus dilakukan. Sejauh mana resolusi yang dibuat benar-benar tercapai. Kemudian, intensitas curah hujan pun mulai meningkat. Yup … hampir setiap hari hujan di daerah tempat tinggalku. Mengakibatkan inspirasi menulis datang secara bertubi-tubi. Selain daripada itu, Desember merupakan bulan yang ditunggu-tunggu untuk berkumpul bersama keluarga selain liburan idul fitri.
Bicara seputar resolusi sebenarnya aku termasuk orang yang seringkali tidak konsisten atas apa yang telah tertulis pada sticky notes yang kemudian ditempel di ranting pohon pada awal tahun. 
resolusi hujan dan kebersamaan

Namun, seringkali keinginan dan tujuan berbanding terbalik dengan keadaan serta kenyataan. Tapi resolusi tahun ini  salah satunya sudah tercapai, yaitu menerbitkan sebuah novel, walaupun masih mini novel dan terbitnya melalui penerbit indie. Setidaknya tidak keluar uang untuk proses penerbitannya. 
mini novel untuk dikenang

Resolusi tahun depan : Mendapatkan pekerjaan yang cocok, Menerbitkan Novel via penerbit mayor, Lebih rajin lagi ngeblog. Semoga bisa konsisten sampai akhir tahun depan.
Hujan, bulan November sudah tahun ini sudah memasuki musim penghujan. Musim yang dinantikan kedatangannya setelah kemarau panjang membuat kekeringan di beberapa daerah dan kabut asap merajalela di pulau Sumatera, Kalimantan dan sekitarnya. Dengan turunnya hujan kebutuhan air pun kembali terpenuhi. 
Awal bulan Desember ini intensitas curah hujan di daerah tempat tinggalku pun semakin meningkat. Hampir setiap hari turun hujan mulai pukul 12.00 WIB sampai tengah malam terkadang sampai pagi menjelang. Hujan membuatku terbebas dari kegiatan menyiram tanaman di pagi dan sore hari. 
Hujan juga membuat intensitas berselancar di dunia maya menurun. Iyess, signal telepon selullar timbul tenggelam, kadang benar-benar tenggelam. Tak jarang jaringan yang muncul hanya simbol GPRS, huaa lemot pake banget. Jadilah waktu berinternet ria hanya dapat dilakukan di pagi buta sampai tengah hari.
Tapi, hujan juga memunculkan inspirasi untuk menulis yang bertubi-tubi. Karena saat hujan turun, keadaan di sekitar tempat tinggal menjadi sunyi senyap.
Desember merupakan musim liburan, hampir sama dengan idul fitri. Maka dari itu bulan Desember adalah bulan yang paling dinantikan kedatangannya. Kalau kata Tasya mah “Libur tlah tiba, libur tlah tiba … hore! hore!”
Libur anak sekolah dasar tahun ini dimulai sekitar tanggal 18 Desember yang artinya Mama mulai libur. Kemudian kakak beserta istrinya pun akan pulang dan meramaikan rumah mulai tanggal 25 Desember nanti. Jadi kami mempunyai waktu untuk menutup tahun 2015 ini bersama-sama. 
 Dua orang yang selalu dinantikan kepulangannya
Tahun lalu kami menikmati penghujung Desember dengan berjogging ria ke perkebunan teh terdekat. Menghirup udara yang lebih segar dari biasanya, jauh dari suara kendaraan bermotor dan menikmati pemandangan alam.
Kemudian terjebak hujan yang mulanya gerimis lama kelamaan semakin deras. Berteduhlah kami di saung milik petani setempat sambil menatap langit yang diselimuti kabut.


Seteleh hampir 30 menit menunggu, akhirnya hujan pun reda dan kami melanjutkan perjalanan menuju kebun teh. 


 
Yeay, di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengahnya kebun teh.
Tahun ini akan ke mana kita? Entahlah belum direncanakan. Karena kegiatan yang tidak direncanakan lebih menyenangkan dan seratus persen terlaksana. Sementara yang sudah direncanakan biasanya berakhir menjadi wacana saja.
http://duniabiza.com/2015/12/01/give-away-desember-me/

Leave a Comment