Saling Melengkapi, Cerpen

No Comments

Photo of author

By Gemaulani

Banyak sekali manusia yang menganggap
ukuran kebahagiaan itu adalah mempunyai jabatan yang tinggi dan hidup
bergelimang harta, tapi Vio tidak berpikir demikian. Vio hidup bergelimang
harta dari kedua orangtuanya, ukuran kamarnya sangat luas disertai dengan
fasilitas yang lengkap, tapi Vio tidak bahagia. Orangtuanya selalu sibuk
bekerja dan tidak pernah ada waktu untuk Vio. Sampai pada akhirnya Vio bertemu
dengan Bayu. Bayu adalah pria yang mampu membuat jantung Vio berdegup kencang,
membuatku tertawa, membuatku bahagia dan membuatku jatuh cinta.
            “Kenapa
aku bisa jatuh cinta sama kamu ya, Bay? Padahal kamu bukan tipe cowok yang aku
inginkan” Vio berbicara pada bingkai foto ditangannya.
            “Tapi
aku bahagia punya pacar kayak kamu Bay, meskipun temen-temen aku nggak pernah
setuju aku sama kamu”.
            “Mereka
nggak tahu sih kalau kamu itu baik, romantis, sederhana, pekerja keras, lucu
dan tulus”.
            Vio
terkenang kejadian tiga tahun yang lalu ketika dia memperkenalkan Bayu kepada
teman-temannya sepulang sekolah. Mereka segera menarik Vio dan menjauh dari
tempat Bayu berdiri. Bayu sadar betul kalau teman-teman Vio tidak akan bisa
menerima semua keadaan yang ada pada dirinya.
            “Vio, kamu gila apa.. cowok gendut dan
sederhana kayak gitu kamu pacarin? Sementara cowok keren dengan tubuh ideal dan
juga kaya raya kamu anggurin”.
            “Keterlaluan kamu Vio!” tambah
Nadya.
            “Semua orang dimata Tuhan itu sama
Nad, gak peduli ukuran pakaiannya apa, mau S, M, L, XL, double XL, semuanya
sama!”.
            “Dan perlu kalian ketahui kalau
cinta itu nggak diukur dari ukuran badan atau apapaun itu. Cinta itu tulus dari
hati dan mau menerima kekurangan ataupun kelebihan pasangan kita” tambah Vio
sedikit emosi.
            “Kita nggak suka kamu pacaran sama
dia.. apalagi dia nggak kuliah”.
            “Kenapa sih kalian harus liat orang
dari kekayaan, pendidikan dan bentuk tubuhnya?perlu kalian tahu kalau Bayu itu
seribukali lebih hebat daripada pacar kalian yang cuma minta-minta dari
orangtuanya”.
            “Bayu itu dewasa, dia bisa
ngebiayain hidupnya sendiri bahkan hidup keluarganya!”.
            Cinta itu saling
melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Cinta tidak peduli sejauh apapun
mereka terpisah, sekalipun jaraknya tidak bisa diukur tapi kedua hati itu
selalu dekat dan saling menjaga kesetiaannya masing-masing. Cinta juga tidak
terbatas, tidak ada si kaya dan si miskin, tidak ada si kurus dan si gendut.
Semuanya bisa bersatu tanpa perlu diukur.
***
Hari ini masih seperti
tahun-tahun sebelumnya. Vio dan Bayu selalu bertemu disini, ditempat yang sama.
Di tempat pertama kalinya Bayu mengutarakan seluruh isi hatinya pada Vio.
Sebuah restoran sederhana dan nampak semakin tua ini adalah saksi tumbuhnya
cinta mereka dari tahun ke tahun. Ukurannya tidak terlalu besar dan seluruh
furniturenya sudah tua sama seperti pemiliknya. Vio tersenyum geli setiap kali
ingat kejadian itu, kursi tua dihadapannya itu tidak mampu menahan berat tubuh
Bayu hingga dia terjatuh ke lantai.
            “Aku
telat, ya?” sosok tinggi besar itu berdiri dihadapan Vio dan tersenyum lebar.
            “Aku
yang kecepetan kok” balas Vio.
            “Kamu
sih nggak mau aku jemput” Bayu duduk dikursi itu dengan sangat hati-hati.
            “Tenang
mas, kursinya aman kok.. walaupun tua tapi masih kuat nahan beban berat” pak
Asep menghampiri mereka dan membawakan pesanan Vio beserta senyumannya yang
khas.
            “Aku
pengennya dijemput pake motor jadul kamu itu Bay, yang sering ngambek.. aku
kangen ngedorong motor kamu yang mogok. Kalau naik motor baru kamu nggak seru
ah” Vio meneruskan pembicaraan mereka.
            “Kamu
tuh aneh deh, anak orang kaya tapi nggak mau pake kendaraan yang bagus. Aku
beli motor baru kan biar kamu nggak diledek temen-temen kamu terus”.
            “Kan
aku udah bilang kalau aku nerima kamu apa adanya Bay.. , nggak ngukur kekayaan,
juga kesuksesan. Cinta aku ke kamu itu nggak pake ukuran… karna cinta aku
terlalu besar dan gak bisa diukur, Bay”.
            “Sama
dong kayak aku” Bayu tersenyum lebar dan memberikan sebuah kado untuk Vio,
dipertemuan mereka yang singkat dan terjadi satu tahun sekali ini.
            Bayu
bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di Jakarta, sementara Vio masih
berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Karena kesibukkan
Bayu bekerja, intensitas pertemuan mereka tentu saja berkurang. Mereka membina
hubungan jarak jauh setiap tahunannya. Vio tidak peduli meskipun ukuran tubuh
Bayu bertambah lebar ataupun berkurang. Karena cinta Vio kepada Bayu tidak
diukur berdasarkan ukuran pakaian. Cinta Vio kepada Bayu itu tulus dan penuh
kesederhanaan. Kebahagiaan Vio tidak bisa diukur dengan apapun, karena bersama
Bayu dia selalu mendapatkan kebahagiaan dimanapun dia berada, sejauh apapun
Bayu pergi dia akan tetap kembali untuk Vio.
            “Aku percaya Bay, cowok gendut itu jarang
banget yang selingkuh… mereka itu setia.. sama seperti kamu selalu setia sama
aku… padahal aku yakin.. di Jakarta sana pasti ada cewek yang naksir kamu
karena jabatan kamu naik”
kata Vio didalam hatinya.
            “Aku percaya Vi, kamu menerima aku apa
adanya… kamu menerima cowok berukuran lebar seperti aku dengan tulus ikhlas..
kamu juga selalu menjaga kesetiaan kamu.. padahal aku yakin.. disini banyak
banget cowok yang ngejar-ngejar kamu”
kata Bayu didalam hatinya.
            “Sekarang aku benar-benar yakin sama
kata-kata kamu yang bilang kalau cinta dan kebahagiaan itu nggak punya ukuran
dan nggak bisa diukur pake apapun”
Bayu tersenyum kepada Vio.
            Kedua
pasangan ini sangat berbahagia dan menikmati kebersamaan mereka yang pendek
setiap tahunnya.

Leave a Comment