Tugas Ketiga, Menjabarkan Kalimat

No Comments

Photo of author

By Gemaulani

Kalimat Pertama yang dijabarkan
         Pagi itu aku menyusuri
jalan disekitar taman komplek yang selalu ramai dikunjungi oleh warga-warga
sekitar untuk berolahraga. Aku menghirup udara segar yang belum tercemar asap
kendaraan bermotor. Kurasakan semilir angin yang sejuk menerobos masuk ke dalam
paru-paruku. Di seberang jalan aku melihat seorang wanita paruh baya yang
menjajakan gorengan kepada setiap orang yang lewat.
       Aku meneruskan perjalananku dengan
berjogging, sesekali aku memandang iri kepada muda-mudi yang berjalan
bersama-sama, bergandengan tangan dan sesekali tertawa bahagia. Seketika
pikirku pun melayang pada sosok cowok yang selalu aku idamkan, dia adalah
Ferdi, sahabatku sendiri. Aku tidak pernah tahu sejak kapan aku mulai jatuh
hati kepadanya, yang aku tahu aku benar-benar mencintainya sekarang. Aku selalu
bilang kepada mama kalau aku ingin merasakan yang namanya jatuh cinta.
            “Ma,, Aku ingin jatuh cinta ma.. aku
ingin punya pacar,, kenapa mama selalu ngelarang fina buat jatuh cinta dan
punya pacar?”
            “kamu itu nggak ngerti apa-apa tentang
cinta fina!”
            “apa ini semua karena papa?”
         Mama selalu bungkam ketika aku
menanyakan tentang papa. Aku juga tidak tahu kenapa sampai saat ini aku tidak
boleh jatuh cinta dan mempunyai seorang kekasih, padahal layaknya seorang anak
remaja seperti teman-temanku, aku ingin sekali merasakan yang namanya jatuh
cinta, mencintai dan dicintai oleh orang yang aku idamkan. Lamunanku buyar
ketika ada seseorang yang menepuk pundakku.
            “Fin.. sendirian aja!”
            Aku berbalik, dan memperhatikan
sesosok pria yang berbadan tegap, berkulit putih, berambut hitam, beralis
tebal, berhidung mancung dengan senyuman manis yang selalu terpancar
diwajahnya. Bagiku itu adalah senyuman mautnya, senyuman yang membuat aku jatuh
hati padanya. Tapi dia tak pernah tau tentang perasaanku terhadapnya. Yang dia
tahu aku Cuma seorang cewek tomboy yang berwatak keras dan menanggap aku tidak
akan pernah jatuh cinta kepada siapapun, padahal aku juga ingin jatuh cinta.
            “hello, fin.. kamu gak papa, kan?”
            “gak papa kok, Fer.” Balasku sambil
membalas senyumnya
            “tumben kamu jogging?”
            “emang kenapa? Gak boleh?”
            “ya rasa-rasanya jadi kayak bukan
Fina yang aku kenal” ejek Ferdi
       Aku mengerenyitkan dahiku, “segitu
malesnya ya aku dimata kamu, fer,, aku rela bangun pagi-pagi biar bisa jogging
bareng kamu!” teriakku didalam hati.
            “ya bagus dong berarti, ada kemajuan
sama hidup aku, aku pengen mulai hidup sehat kayak kamu!”
            “iya sih bagus juga…”
            “mmm.. jangan-jangan kamu lagi jatuh
cinta, ya?” goda Ferdi
            Sebelum aku menjawab Ferdi langsung
menjawab pertanyaan yang ditujukkannya kepadaku.
           “eits tapi gak mungkin ya..
impossible gitu kalau seorang Fina Fania Febrianty jatuh cinta, gak ada
sejarahnya tuh.” Kata Ferdi sembari berjogging dan meninggalkanku
        Rona wajahku yang tadinya bahagia
bak bunga-bunga yang bermekaran dan menyebarkan wangi, sekarang berubah menjadi
sedih bak bunga-bunga layu yang kini berbau busuk. Aku menatap ke arah Ferdi
yang kini mulai jauh dari penglihatanku, yang terdengar hanya teriakkannya yang
memanggilku.
            “Apa seorang Fina gak boleh jatuh
cinta? Aku ingin jatuh cinta juga Fer, sama seperti cewek normal lainnya.. Aku
ingin jatuh cinta… Aku ingin jatuh cinta dan aku ingin kamu yang menerima
cintaku, Fer” bisikku pelan
       Tak terasa airmata menetes satu
persatu dipipiku, aku merasa sakit yang teramat sangat menyayat-nyayat hatiku,
rasanya perih. Aku segera menghapus airmataku dan berlari dengan cepat untuk
menyusul Ferdi. Aku pun akhirnya bisa berjogging berdampingan dengan Ferdi.
Ferdi tersenyum dan menatap ke arah ku. Dan aku mulai salah tingkah.
            “kenapa sih, Fer? Ada yang aneh sama
aku?”
            “heran aja.. bertahun-tahun kita
sahabatan, sekolah bareng, maen bareng, nongkrong bareng, bolos bareng, maen
game bareng, ngerjain tugas bareng, dan baru kali ini kita jogging bareng,
terus…” Ferdi belum meneruskan perkataannya.
            “terus apa?” Tanyaku
            “kamu gak kayak Fina yang aku kenal,
penampilan kamu berubah, kamu jadi rapi dan wangi dan suka senyam senyum
sendiri” kata Ferdi sembari tertawa terbahak-bahak
            “emang dulu aku acak-acakan gitu?
Terus bau?” kataku dengan nada kesal
            “iya”
          Kami pun berhenti dan beristirahat dikursi
taman sembari menikmati bubur ayam sebagai menu sarapan pagi. Aku menghentikan
kegiatan sarapanku ketika tersadar kalau sejak tadi Ferdi memandangiku dan
membuat aku salah tingkah lagi, jantungku berdegup kencang, pipiku terasa panas
dan bibirku terasa kelu.
            “kenapa sih, Fer? Kok mandangin aku
kayak gitu?”
        Tanpa berkata apapun Ferdi mendekat
ke wajahku. Perasaanku semakin tak menentu dan ternyata Ferdi hanya menyeka
bibirku yang belepotan karena bubur dengan tangannya.
          “kamu itu selalu deh.. makan kayak
anak balita… berceceran dan belepotan” ejek Ferdi sembari mengacak-ngacak
rambutku
            Aku hanya terdiam dan termangu.
Kemudian Ferdi mengajak aku pulang karena kami harus bersiap-siap untuk pergi
ke sekolah. Ferdi membayar sarapan kami pagi itu.
            “Jam 07.00 tepat ya Fin. Jangan
lebih loh,, nanti kita telat lagi kayak kemaren!” tegas Ferdi
            Aku hanya menggangguk dan segera
masuk ke dalam rumah. Aku menuju ke kamarku yang terletak dilantai 2. Aku
menghempaskan tubuhku sejenak di tempat tidur, aku menghela nafas panjang dan
memandangi foto yang terpajang di dinding, foto-fotoku bersama Ferdi. “aku juga
manusia biasa Fer.. aku ingin jatuh cinta,, aku ingin dicintai, dan aku ingin
kamu Fer” kataku. Kemudian aku beranjak bangkit dan menuju ke kamar mandi.
            Beberapa saat kemudian aku begegas
menuruni anak tangga satu per satu. Aku berpamitan kepada mama kemudian berlari
ke rumah Ferdi yang bersebelahan dengan rumahku. Aku menghentikan langkahku
ketika tante Mia( Mama Ferdi) dan Ferdi menatap ke arahku dan menghentikan
pembicaraan mereka.
            “kenapa? Ada yang salah ya sama
aku?” tanyaku yang merasa heran
            “kamu cantik Fina..” kata Tante Mia
sembari tensenyum
           Pipiku menjadi merah merona karena
pujian tante Mia. Tiba-tiba Ferdi tertawa terbahak-bahak dan itu membuatku
sangat kesal padanya.
           “giila.. super giila.. seorang Fina
Fania Ferbrianty yang super tomboy dan gak peduli sama penampilannya tiba-tiba
berubah 180 derajat jadi super feminim” kata Ferdi
            Pada jam istirahat aku bergegas
menuju ke lapangan basket untuk melihat Ferdi yang sedang bertanding. Betapa
terbakarnya hatiku ketika melihat Tita mengelap keringat Ferdi dan memberikan
Ferdi minuman.
            “ehm”
            “eh Fin…” kata Ferdi
            “Fer,, aku ke kelas lagi ya” kata
Tita
            Ferdi tersenyum dan mengangguk.
            “kalian udah jadian?”
            “kayaknya sebentar lagi”
            “kenapa emang? Cemburu ya?”
            “eh, gak mungkin dong ya kamu suka
sama aku” Ferdi tertawa geli
            “iya Fer. Aku cemburu, karna aku
juga ingin jatuh cinta dan aku jatuh cinta sama kamu Fer!” teriakku yang tak
bisa menahan emosi.
            Aku bergegas pergi dan meninggalkan
Ferdi yang hanya terdiam.

Kalimat  Kedua

           Andai waktu bisa
kuputar kembali, aku ingin dia tahu kalau aku sangat mencintainya. Andai waktu
bisa kuputar kembali aku ingin berkata “Jangan Tinggalkan aku, Jangan pergi
dariku”. Andai waktu bisa kuputar kembali aku tidak ingin kehilangan hangatnya
pelukkanmu, belaian lembut tanganmu, dan kecupan bibirmu dikeningku juga
kata-kata cinta yang mampu meluluhkan dinding keras dihatiku.

           Andai waktu bisa kuputar kembali,
aku ingin kamu tahu kalau aku benar-benar mencintai kamu dan aku sakit ketika
kamu pergi dariku. Andai waktu bisa kuputar kembali mungkin pagi ini aku tidak
harus berdesak-desakan di metromini dengan penuh keringat yang membuatku basah
kuyup. Pasti aku bisa duduk santai dan merasakan kesejukkan didalam mobilmu.
Andai waktu bisa kuputar kembali, saat ini tidak akan ada ruang-ruang kosong
dihatiku.
            “Fina….!!!” Teriak mama
         Aku terbangun dari tidurku pagi itu
disambut dengan hangatnya mentari pagi dan kicauan merdu dari burung-burung
yang seolah-olah bernyanyi riang gembira. Ku temui sosok mama dimeja makan
dengan wajah yang terlihat kesal.
       “Fina.. kapan kamu mau berubah?
Kapan kamu bisa bangun pagi tanpa harus mama bangunkan?”
            “Maafin Fina, ma..”
            “kamu itu sama saja seperti
laki-laki itu!” teriak mama
            Aku melihat mama mencoba menahan
airmatanya setiap kali berkata “laki-laki itu” yang tak lain adalah papa. Mama
selalu bilang kalau aku sangat mirip dengan papa, laki-laki yang sejak 3 tahun
yang lalu meninggalkan kami.
           Andai waktu bisa kuputar kembali,
aku akan mencegah supaya papa tidak meninggalkan kami, pasti tidak akan ada
selimut kesedihan di wajah mama setiap harinya. Andai waktu bisa kuputar
kembali pasti saat ini aku mempunyai keluarga yang lengkap dan bahagia.
            “Maafin Fina ma,, kalau sikap Fina
selalu mengingatkan mama pada sosok papa”
            Mama hanya terdiam.
            “Ma…Fina langsung berangkat sekolah
ya, Ma”
            Mama tetap diam membisu.
         Aku pun berjalan perlahan
meninggalkan Mama. Setibanya disekolah aku melihat Dion(Mantan kekasihku)
berjalan bersama Puput. Puput adalah pacar baru Dion. Andai saja waktu bisa
kuputar kembali aku sangat tidak ingin melihat kebersamaan mereka pagi ini, dan
pasti akulah yang berjalan berdampingan dengan Dion. Dion tersenyum kepadaku,
aku ingin membalas senyumannya tapi Puput menunjukkan raut wajah yang sangat
membenciku.
            “Fina…” teriak Mita
            “kenapa, ta?”
            “hari ini ada audisi Duta Sekolah
lagi, nih aku bawain formulirnya buat kamu”
            “aku gak minat ta.. kamu tahu kan
penyebabnya”
            “Fin.. ini saatnya kamu buktiin
kalau sebenernya kamu layak jadi Duta Sekolah kita”
            “aku gak mau ta.. aku gak mau
saingan lagi sama Puput”
        “kenapa sih Fin.. aku heran sama
kamu.. kenapa kamu selalu ngalah sama Puput, yang jelas-jelas gak pernah
ngehargain segala pengorbanan kamu buat dia”
            “seorang sahabat gak butuh
penghargaan dari sahabatnya ta… melihat Puput bahagia aja itu udah cukup buat
aku”
            “Andai waktu bisa kuputar kembali,
pasti aku tidak akan menyusuri koridor-koridor sekolah ini sendirian, pasti
kamu masih jadi sahabat aku, Put” kataku dalam hati
            Siang itu terik matahari begitu menyengat.
Aku berjalan menuju ke taman belakang, aku tidak sengaja menabrak Puput dan
Dion saat itu.
            “Maaf.. aku gak sengaja”
            “alah bilang aja loe mau cari
perhatian Dion lagi!” bentak Puput
            “Put.. kamu ini apa-apaan sih? Fina
kan udah minta maaf, lagian dia nggak sengaja” potong Dion
            “terus aja belain mantan kamu ini!”
bentak Puput sembari pergi meninggalkan aku dan Dion
            “Maafin Puput ya, Fin..” kata Dion
sembari tersenyum
            Aku hanya mengangguk, aku tak kuasa
melihat senyuman Dion dan menatap sorotan matanya yang masih menyimpan perasaan
kepadaku sama seperti aku menyimpan rasa itu kepadanya. Aku meneteskan airmata
ketika Dion meninggalkanku. “Tuhaaan.. andai waktu bisa kuputar kembali aku
pasti tak akan merasakan rasa sakit ini, rasa yang sangat menyiksa batinku”
kataku dalam hati
            Aku segera bergegas menuju ke taman
belakang sekolah, taman yang dulu selalu memberikan aku banyak kebahagiaan dan
penuh dengan kenangan manis bersama Puput dan Dion. Andai saja waktu bisa
kuputar kembali pasti saat ini aku masih tertawa dan bercanda bersama mereka
disini.
            “Fin..”
            Aku menoleh ke arah sumber suara
yang ternyata adalah Dion. Dion mendekat ke hadapanku. Perasaanku mulai tak
menentu, aku merasakan detak jantungku semakin keras dan semakin cepat, aku
sangat gugup, keringat dingin mulai membasahi tubuhku.
            “apa kabar?”
        “ya seperti yang kamu lihat, aku
baik-baik aja” balasku yang memaksakan tersenyum dan menahan airmata yang siap
untuk terjatuh.
            “aku seneng kamu baik-baik aja..
tanpa aku, asal kamu tahu Fin,,seandainya saja aku diberi kesempatan untuk bisa
memutar kembali waktu yang telah berlalu. Aku nggak akan pernah nurutin
permintaan konyol kamu ini, semua ini membuat aku tersiksa Fin”
            Aku hanya tertunduk, aku tak kuasa
bila harus menatap Dion. Tiba-tiba Dion mengangkat wajahku dan memaksa aku
untuk menatap kedua matanya.
            “Lihat aku Fin.. Lihat mata aku,,
aku tahu kamu masih punya rasa yang sama seperti aku, kamu juga masih cinta dan
sayang sama aku kan?”
            Aku berusaha menahan airmataku dan
menggeleng-gelenggkan kepalaku.
            “kamu bohong Fin.. pliss jangan
bohongin perasaan kamu sendiri”
            “Aku gak bohong Dion,, aku…”
            “aku apa? Aku pengen kamu jujur sama
perasaan kamu sendiri Fin”
            “Ok,, Andai saja waktu bisa kuputar
kembali aku gak pernah rela nyuruh kamu ninggalin aku dan jadian sama Puput,
karena aku sangat mencintai dan menyayangi kamu Dion, tapi itu gak akan mungkin
terjadi kan”
            “terus kenapa kamu nyuruh aku jadian
sama Puput?”
            “Puput sahabat terbaik yang pernah
aku miliki Dion, aku ingin dia bahagia.. dan aku baru tahu kalau dia suka sama
kamu”
            “kamu egois Fin.. kamu peduli sama
Puput tapi kamu ngorbanin perasaan kamu sendiri dan kamu ngorbanin perasaan aku
yang jelas-jelas Cuma cinta sama kamu!”
            “Udahlah Dion,, sekarang pacar kamu
itu Puput, Puput Cantik, dia sempurna buat kamu, gak seperti aku yang selalu
nyakitin kamu”
            “tapi yang aku cintai itu kamu Fina!
Andai waktu bisa kuputar kembali aku Cuma pengen ngejalanin semuanya sama kamu
bukan Puput”
            “apa bedanya aku jadian sama kamu
dengan aku putus sama kamu terus jadi pacar Puput? Gak ada kan? Puput tetep
benci sama kamu dan kalian tetep musuhan!”
            “setidaknya aku bahagia melihat
Puput bahagia”
            “Andai waktu bisa kuputar kembali,
aku nggak akan egois merebut kebahagiaan orang-orang yang aku sayangi dan
ngemusuhin sahabat aku hanya karena Dion jadian sama kamu” kata Puput
            “Puput” kataku
            “Maafin aku Fin kamu dan Dion berhak
buat bahagia”
            Aku dan Dion hanya terdiam memandang
ke arah Puput.

Leave a Comment