Tercipta Bukan Untukku, Cerpen

No Comments

Photo of author

By Gemaulani

Oleh : @GeMaulani
Catatan penulis :
Bisa jadi cerita ini
berasal dari kejadian nyata yang di alami oleh sang penulis. Tapi bisa jadi ini
hanya cerita hasil karangan penulis dengan imajinasinya yang terlalu tinggi
tentang cinta. Dan penulis yang keracunan lagu “Whereever You Are” Jadi mohon
maaf apabila ada kesamaan tempat, waktu, tokoh dan kejadian ya. Cerpen ini
pernah di ikut sertakan dalam sebuah lomba bertemakan penyesalan dengan judul dan
isi yang telah aku perbaharui sedikit. Namun, tidak berhasil lolos. Dan
memutuskan untuk mempostingnya hari ini saat penulis sedang down dan  kehilangan percaya diri untuk mengikuti
beberapa lomba.
So, enjoy for reading 🙂
                Apa yang kau anggap baik, belum
tentu baik. Begitu pun aku, menurutmu aku begitu baik dan pantas untuk
bersamamu. Tapi, bagiku aku tak pantas untuk memilikimu yang begitu baik
terhadapku. Karena aku tak cukup baik untuk menemani setiap langkahmu. Seperti
potongan kalimat dalam novel Perahu Kertas karya Dee : “Cari orang yang bisa
ngasih kamu segala-galanya, apapun itu … tanpa harus kamu minta” dan aku sudah
menemukan kamu. Namaku Ana dan usiaku 19 tahun saat itu.
//Whereever you are I
always make you smile
Whereever you are I always
by your side
Whatever you say kimi wo
omou kimochi
I promise you forever right
now//
One Ok Rock – Whereever You
Are
Lagi-lagi
aku memutar lagu itu tanpa henti, seolah tak pernah bosan dengan lirik serta
iramanya. Entah virus apa yang telah meracuni pikiranku untuk terus memutarnya.
Potongan lirik-lirik itu telah membiusku, membuatku terbang melayang di
angkasa. Menambah penyesalan yang sampai saat ini belum kutemukan ujungnya. Lagu
itu pernah didendangkan oleh seseorang melalui video youtube saat aku dan dia
masih dekat. Dan kini aku merindukannya.
Sekarang
semuanya telah berbeda, dia menjauh sejauh tempatnya berada di negeri matahari
terbit. Hembusan angin telah membawanya pergi tapi tidak dengan kenangannya.
Kenangan manis yang selalu terukir indah di hati dan pikiran ini. Sekarang aku
benar-benar merasakan artinya kehilangan. Kehilangan dia yang menyayangiku
dengan tulus. Kehilangan canda dan tawa yang selalu dia bagi bersamaku.
Kehilangan perhatian dan segala bentuk komunikasi digital dengannya. Semuanya
telah memudar, bahkan menghilang di telan bumi, mungkin rasa yang dulu dia
punya juga sama.
***
Cinta
ini aku yang rasa, suka ini mata aku yang memulainya dan sayang ini aku yang
tahu, aku yang pendam. Tidak ada satu orangpun yang tahu jika aku masih
menyayangi dia, termasuk mantan terakhirku. Dia menertawakan dan mencemooh Divo,
laki-laki ketiga terbaik setelah Dian dan Dani yang aku kenal, bedanya Divo itu
tidak menjadi pacarku sama halnya seperti Alif. Ini berawal saat aku mengirimi
pesan facebook kepada Dimas.
“Udah
punya pacar lagi ya, Dim?”
“Iya”
“Syukur
deh, selamat yaa udah bisa balikan lagi sama mantan cantiknya. Semoga langgeng”
“Iya,
makasih ya Ana, Kamu juga semoga dikirimin lagi boneka sama aa Divo, biar tambah
banyak koleksinya. Hehe”
“Iya
sama-sama … pertahanin ya jangan gonta ganti pacar terus. Sekarang aku udah gak
akrab lagi kayak dulu sama dia. Lagian kalau sampai dikasih lagi aku gak enak.
Nanti nambah koleksi dari hasil sendiri ajalah”
“Iyaa
pasti. Ya nggak lah itu gonta ganti kan karna banyak yang gak cocok. Iya kasian
ngirimin dari sana jauh.. jadi kepikiran buat ongkos kirimnya kalau aku,
hahahaha Divo, Divo”.
“Iya,
gak tau kenapa dia mau ngirimin jauh-jauh dari sana. Mungkin karna dia orangnya
baik banget”.
“Usaha
it utu ceritanya, tapi usaha yang konyol hahahaha piss”.
“Ini gak konyol tau, ini
tuh keliatan banget usahanya dia buat bahagiain aku, gak kayak kamu bilang aku
matre padahal aku gak pernah minta apapun sama kamu dan dikasih apa-apa sama
kamu!”
kesalku dalam
hati.
“Menurutku
dia gak konyol, aku acungin dua jempol. Top banget buat pengorbanannya”
“Hahaha..
kalau buat aku nggak! Buat aku dua jempol itu buat orang yang rela mati buat
pasangannya”
Aku
semakin kesal pada Dimas, aku tidak terima saat dia mengatakan hal yang
dilakukan Divo itu konyol. Divo itu laki-laki yang baik dan rela berkorban.
Divo adalah tipe laki-laki yang tidak neko-neko. Divo itu menyenangkan dan
selalu memberikan kedamaian di hati ini. Dia bukan laki-laki penggombal dan
penebar janji palsu. Tapi laki-laki yang baik itu biasanya tidak aku jadikan
pacar dengan alasan dia terlalu baik untuk menjadi seorang pacar. Aku telah
menolak Divo untuk kedua kalinya. Pertama waktu masih sekolah dan saat itu Divo
masih digosipkan suka kepada Nita, salah satu teman baikku di kelas.
“Aku suka sama kamu An, kamu
mau nggak jadi pacar aku?”
“Kenapa kamu bisa sayang
sama aku? Kenapa nggak sama Nita aja, dia itu lebih cantik, pinter dan lebih
segala-galanya dari aku. Dia lebih cocok sama kamu daripada aku”, padahal
sayang yang sebenarnya itu tidak memerlukan alasan apapun.
Perasaan takut dan ragu itu
selalu menyelimuti hati dan pikiranku, ketika seseorang yang dulunya pernah
menyukai temanku tiba-tiba saja berkata demikian padaku.
“Apa aku hanya pelampiasan
dia karena dia ditolak oleh Nita?” aku meragu ketika membaca pesan singkat dari
Divo, laki-laki yang aku kagumi saat itu. Rasa kagum yang berbalut rasa suka
itu datang begitu saja tanpa bisa di halang-halangi.
Aku teringat kenangan manis
ketika pulang menjenguk guru bahasa jepang yang sakit. Waktu itu sudah pukul 9
malam dan tidak ada kendaraan umum untuk pulang. Akhirnya aku diantarkan pulang
oleh 2 kakak kelas dan juga duduk berboncengan dengan Divo, di tambah lagi
hujan gerimis yang menemani perjalanan pulang kerumahku. Waktu aku tiba di depan
rumah, dia tersenyum, dan senyumannya itu sangat manis, mampu menggetarkan hati
ini.
“Aku udah gak peduli soal
Nita, sekarang aku sukanya sama kamu”
“Apa karna Nita sekarang
berpacaran dengan kak Aris?”
“Bukan An, aku itu sayang
sama kamu, suka sama kamu”
“Lebih baik kita sahabatan
aja Vo, kamu itu laki-laki yang baik dan gak pantes buat aku. Lagipula kamu
tahu kan kalau Alif, temen sekelas kamu juga suka sama aku”
***
Sejak
peristiwa itu, sikap Divo tidak berubah kepadaku seperti laki-laki lain yang
pernah aku tolak. Divo itu dewasa dan mampu menjaga sikapnya, dia tahu cara
memperlakukan wanita dengan sopan. Dia tidak menggoda, tapi dia menyapa dan
tersenyum dengan sopan, itulah yang membuatku jatuh hati padanya. Sampai
akhirnya aku menerima cinta Fajri, teman dekat Divo dan Alif saat itu. Bodoh
memang, Alif dan Divo yang baik hati aku tolak dan lebih memilih Fajri yang
sering mengabaikanku. Tidak ada yang tahu kalau aku berpacaran dengan Fajri,
kecuali Banyu teman dekat Fajri yang sudah bekerja di Jepang bersama Alif dan
juga Divo.
Dua
bulan sebelum keberangkatan Fajri ke Jepang, aku berbalik sering
mengabaikannya. Saat itu Divo kembali menghubungiku kembali dan menyatakan
kalau dia masih menyayangi dan mencintaiku. Aku bingung harus berkata apa. Di sisi
lain sebenarnya aku masih mencintai dia, tapi di sisi lainnya aku mempunyai
kekasih dan dia adalah temannya sendiri.
“An,
aku masih sayang sama kamu sampai sekarang”.
“Kamu
punya pacar ngga sih?”.
Aku
memlih bungkam “Hehehe, nanti juga kamu tahu, Vo”.
“Kok
gitu sih? Aku kan penasaran, aku masih sayang kamu An, kamu mau ngga jadi pacar
aku?”.
“Kalau boleh jujur, aku
juga sayang kamu Vo, dari dulu”
jawabku
dalam hati.
***
Akhirnya
tanpa pesan terakhir dan tanpa kata putus, Fajri memiliki kekasih baru yang
mengirimi aku pesan facebook dan mengatakan ‘teteh Barbie busuk’ lewat
statusnya kepadaku. Tapi, aku sudah tidak peduli dengan semua itu, yang aku
pedulikan sekarang adalah perasaan Divo.
“Wah,
Ana pasti banyak yang suka yah dikampusnya?” pesan facebook baru dari Divo.
“Ah
nggak kok, disini gak ada yang suka sama aku” jawabku bohong, padahal aku
hampir saja melupakannya gara-gara dia, si kakak kelas yang awalnya menyebalkan
untukku.
“Masa
sih nggak ada yang suka? Berarti aku boleh daftar dong?”
“Boleh
kok boleh” sedikit ragu.
“An,
kamu mau nggak jadi pacar aku?”
Lagi-lagi
pertanyaan itu membuat mulutku mengatup, bungkam seribu bahasa. Sekujur tubuhku
terasa kaku tak bisa bergerak. Aku terduduk lemas dan mataku mulai berembun,
aku bingung setiap kali Divo menanyakan hal itu. Aku menyukainya, aku
menyayanginya tapi aku tak bisa bersamanya. Divo itu terlalu baik untuk ku jadikan
pacar, Divo lebih cocok untuk di jadikan pendamping hidup selamanya.
“Aku nggak mau nantinya
kamu kecewa kalau aku nerima kamu, Vo, aku juga nggak mau Alif lebih kecewa
lagi.. kamu juga akan kecewa kalau tahu aku pernah berpacaran dengan Fajri. Aku
nggak pantes buat kamu Vo, aku orang yang mudah bosan.. apalagi kamu jauh
disana”
tambahku dalam
hati.
“Woy,
ngelamun aja An” Arin masuk kedalam kamarku dan membuyarkan semua pikiranku tentang
Divo.
“Divo,
 Rin, dia nembak aku lagi”.
“Lah,
ditembak kok mukanya malah sedih gitu? Divo yang semalem nelpon ya?”.
“Apa,
Rin?” aku kaget mendengar pernyataan Arin barusan.
“Iya,
semalem ada yang telpon gitu beberapa kali pas aku sama Indah pulang. Kamunya
sih tidur pules, kita nggak tega buat bangunin jadinya aku angkat deh terus
bilang kamu udah tidur”.
Dari
situlah aku memilih untuk mundur dan menjauhi Divo, aku mengabaikan teleponnya,
smsnya dan juga message facebooknya. Sampai akhirnya dia mengirimkan sebuah
boneka kesukaanku, kaos berbahasa jepang dan sepucuk surat. Aku bahagia sekali
saat menerimanya, tapi aku juga sedih, karna sehebat apapun pengorbanan dia
kepadaku, aku tetap tidak bisa menjadi kekasihnya karna aku yakin akan ada
orang yang tepat yang Tuhan ciptakan untuk bersamanya.
Tapi
kini aku menyesal, menyesal telah membuatnya menjauh secara tidak baik.
Menyesal telah mengabaikannya dan menyesal karna tidak sempat mengutarakan isi
hatiku yang sebenarnya. Kini aku hanya bisa memandanginya melalui facebook tanpa
berani mengirimi dia pesan. Untuk sekedar berkomentar di fotonya ataupun sekedar
menyukai statusnya pun aku enggan. Sekarang aku sendiri, dalam kehampaan dan
kekosongan hati.
Aku
tahu waktu tidak bisa di putar ulang dan aku tidak bisa memperbaiki semuanya.
Aku harus sadar kalau Divo tidak akan kembali lagi dan tidak mencintaiku lagi
seperti tahun-tahun sebelumnya. Penyesalan memang selalu berada di akhir, dan
aku benar-benar menyesal telah membiarkan orang yang tulus mencintaiku apa
adanya pergi dan menghilang tanpa pernah bisa kembali lagi. Tapi sesalku memang
sudah tak berarti. Mungkin, dia memang tercipta bukan untukku tapi untuk yang
lain. Terimakasih untuk hati yang tak pernah lelah menunggu selama 3 tahun dan
segala kebahagiaan yang telah kamu beri.
//Cinta memang banyak
bentuknya
Mungkin tak semua … bisa
bersatu//
Tulus
– Sepatu

Leave a Comment