Kisah Yang Salah, Fiktif

No Comments

Photo of author

By Gemaulani

Oleh : Ge Maulani 

Aku mencintainya,
begitupun dia, dia mencintaiku bahkan sangat mencintaiku. Perasaan ini muncul
begitu saja seiring kedekatan kami akhir-akhir ini. Dia tak hanya sekedar
sahabat, tapi dia sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Dia selalu ada
disampingku setiap waktu, mendengar semua keluh kesahku. Jika kedua orangtuaku
tahu tentang hubungan kami, mereka pasti tak akan merestui hubungan ini.
            Hubungan
ini sudah melampaui batas normal, tapi aku tak bisa mengendalikan perasaanku.
Aku sangat takut kehilangannya, bahkan rasa takutnya melebihi rasa takutku saat
kehilangan Angga. Namaku Anyeu, aku enam belas tahun. Aku tinggal dan
bersekolah di kota kelahiranku, Jakarta. Aku mengalami kisah cinta terlarang
bersama sahabat baikku, Erik.
            “Anyeu…”
            “Ya,
Er? Kenapa?”
            Dia
menatapku lembut, matanya mengisyaratkan sesuatu.
            “Maaf…”
            “Maaf
untuk apa?”
            “Aku
cinta sama kamu”
            Tiba-tiba
saja jantungku berdetak kencang, bahkan lebih kencang dibandingkan saat aku
berada didekat Angga. Apa aku jatuh cinta pada Erik? Ah ini tidak mungkin, ini
tidak boleh terjadi.
            “Sejak
kapan?”
            “Sejak
SMP, Nyeu”
            “SMP?”
            Dia
mengangguk pelan, terlihat raut kesedihan diwajahnya.
            “Aku
tahu ini salah Nyeu, tapi aku nggak bisa ngilangin rasa ini, aku terlanjur suka
sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu”
            Sekilas
Erik memang terlihat tampan, tapi tetap saja dia berbeda. Aku meremas-remas
rumput didekatku. Aku mulai gelisah, aku tak tahu harus berbuat apa. Erik
membuat hari-hariku lebih berwarna, dia membantuku bangkit dari keterpurukan.
Dia membantuku melupakan Angga.
            “Aku
nggak akan maksa kamu untuk suka bahkan cinta sama aku Nyeu, karna aku tahu,
aku nggak pantes buat kamu”
            “Kamu
pasti nggak mau kan jadi pacarku?”
            “Kata
siapa? Aku mau kok jadi pacar kamu”
            Kata-kata
itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku kehilangan kendali, aku tak bisa
menolak kehadiran Erik. Aku tak ingin suasana romantis ini rusak begitu saja
karena penolakanku. Aku tak ingin Erik menjauh dariku, aku merasa nyaman jika
berada didekatnya.
***
            Aku
tak bisa menerima kenyataan jika Angga lebih memilih Diandra sebagai
kekasihnya. Aku kecewa dan terluka, penantian dan pengorbananku selama ini tak
ada artinya untuk Angga. Dia tak pernah menghargai perasaan tulusku untuknya.
            “Ga,
kenapa kamu lebih memilih Diandra daripada aku? Aku kurang apa, Ga?”
            Angga
tersenyum sinis “Kurang populer di sekolah, kurang kaya dan kurang pinter!”
            “Maksud
kamu?”
            “Ya,
loe liat dong Diandra, dia cantik, modis, anak konglomerat, pinter main piano,
ketua dancer sekolah, ketua OSIS dan
otaknya encer, dia selalu juara kelas bahkan juara umum satu sekolah!”
            “Sementara
loe? Mendingan loe ngaca dulu deh sebelum bilang suka sama gue!”
            “Tapi
selama ini, aku selalu ngerjain tugas-tugas kamu dan hasilnya selalu sempurna!”
aku berusaha membela diri.
            “Tapi
loe tetep nomer dua dan Diandra is number
one
!”
            “Makannya
kalau mimpi itu jangan ketinggian, jadi sekalinya loe jatuh pasti sakit
banget!” bisik Angga yang kemudian mendorong tubuhku ke lantai.
            Aku
terduduk lemas, aku tak bisa menerima kenyataan ini. Angga mempermainkan
perasaanku, dia hanya memanfaatkanku untuk mengerjakan semua tugas-tugasnya.
Dia tak pernah mencintaiku sedikit pun. Airmata ini tak bisa kubendung lagi dan
akhirnya mengalir deras dipipiku.
            “Anyeu,
ngapain sih duduk disini?” Erik membantuku untuk bangkit.
            “Kok
kamu nangis sih? ada apa?” Erik terlihat khawatir.
            Dia
menghapus airmataku dengan sapu tangan kesayangannya.
            “Coba
deh cerita sama aku biar kamu lebih tenang”
            “Angga,
Er.. Angga”
            “Angga
kenapa emangnya?”
            “Angga
lebih milih Diandra daripada aku” aku menangis tersedu-sedu, sesaat kemudian
aku menenggelamkan wajahku di dalam pelukan Erik.
            Rasanya
sangat nyaman, persis seperti pelukan hangat milik mama.
***
            Semakin
hari aku semakin dekat dengan Erik. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Erik
terlihat keren, apalagi saat mengendarai sepeda motor Ninjanya. Aku tak segan
memeluknya dengan erat saat perjalanan pulang menuju rumah. Tak ada perasaan
canggung sedikit pun diantara kami.
            “Hai
Anyeu” Daniel, salah satu cowok tampan di sekolah menghampiriku dan Erik.
            “Hai,
Nil”
            “Boleh
gabung disini?”
            Aku
tersenyum “Boleh kok”
            “Aku
ke kelas duluan ya Nyeu” Erik beranjak pergi meninggalkan kami.
            “Kayaknya
Dia cemburu deh kalau aku ngedeketin kamu?”
            Aku
menatap Daniel tak percaya, bagaimana bisa dia menanyakan pertanyaan yang
sangat aneh kepadaku. Semua orang tahu kami bersahabat.
            “Ya
wajar dong kalau seorang sahabat cemburu sama sahabatnya” jawabku santai.
            “Maksud
aku bukan itu, Nyeu”
            “Udah
ah, kamu ini ngaco aja deh”
            Entah
mengapa pertanyaan Daniel masih terngiang-ngiang dikepalaku. Aku memperhatikan
seluruh gerak gerik Erik di dalam kelas, tapi sepertinya semua biasa saja, tak
ada yang aneh.
            “Kamu
kenapa sih? kok liatin aku kayak gitu?”
            “Mmm..
gak papa kok Er”
***
            Pertanyaan
Daniel akhirnya terjawab, hari ini, aku berada di tempat ini bersamanya. Cinta
terlarang ini sudah berlangsung selama satu bulan. Dia mengenggam tanganku
dengan erat dan menyandarkan kepalanya dibahuku. Semilir angina dengan setia
menemani kebersamaan kamui, menikmati perasaan cinta yang tak lazim ini.
            “Kamu
kenapa, Nyeu? Kok diem aja?”
            “Kamu
nyesel ya nerima aku jadi pacar kamu?”
            Aku
masih terjaga dalam lamunanku. Aku tak tahu hubungan ini akan dibawa kemana.
Aku terlanjur mencintai Erik, tapi aku takut jika mama mengetahui hal ini. aku
takut mama kecewa, aku takut mama shock,
aku takut penyakit jantung mama kambuh lagi.
            “Nyeu”
Erik mendekatiku dan mencium keningku.
            “Iya,
kenapa, Er?”
            “Kamu
ngelamunin apa sih?”
            “Ng..
nggak papa kok”
            “Yakin?”
            Aku
mengangguk pelan, membiarkan Erik membelai rambutku dengan lembut.
            “Jujur
aku takut Nyeu, aku takut kehilangan kamu”
            “Aku
sayang banget sama kamu, Nyeu”
            Aku
tak tahu sampai kapan menyimpan perihal hubunganku dengan Erik dari dunia luar.
Kedua orangtuaku pasti sangat kecewa dan malu jika mengetahui hubungan yang
terjalin diantara kami lebih dari sekedar sahabat.
            “Er,
udah sore nih, kita pulang yuuk”
            Kami
berjalan berdampingan dan saling bergandeng tangan meninggalkan keindahan taman
sore itu.
***
            “Sampai
ketemu besok sayang” Erik hampir mencium pipiku, tapi aku segera menghindar.
            “Loh,
kenapa?” kening Erik berkerut, sepertinya dia kecewa.
            “Aku
takut ada yang liat Er”
            “Kamu
malu, ya?”
            “Maafin
aku Er, tapi hubungan kita ini kan nggak wajar”
            “Ya
udah kalau gitu, aku pulang dulu ya.. sampai ketemu besok”
            Erik
mengendarai sepeda motornya dengan cepat, selang beberapa detik dia sudah
menghilang dari pandanganku. Aku membuka pintu rumah secara perlahan, berharap
mama tak melihat kejadian barusan. Aku salah, langkahku tertahan di depan
pintu. Mama sudah berdiri disana, menanti penjelasan dariku.
            “Ada
hubungan apa kamu sama dia?”
            “Aku
sama Erik sahabatan, Ma” aku tak berani menatap mata Mama.
            “Mama
nggak suka kamu deket-deket sama dia!”
            “Kenapa,
Ma?”
            “Kamu
lihat saja penampilannya, dia tidak seperti gadis normal seusianya, dia lebih
mirip laki-laki”
            Aku
tersentak, sepertinya mama mulai curiga atas hubunganku dengan Erik.
            “Kenapa
kamu kelihatan takut?”
            “Kamu
nggak lagi bohong kan sama mama?”
            Aku
menggeleng tak mampu menjawab pertanyaan mama yang sudah jelas menyudutkanku.
            “Aku,
naik dulu ya Ma, mau ganti baju”
            Aku
menaiki anak tangga itu satu persatu, ku tenggelamkan wajah di dalam bantal
kesayanganku. Aku telah membohongi mama, aku tak berani mengatakan yang
sejujurnya. Maafkan aku Ma, sebenarnya aku mencintai Erik, Erika lebih
tepatnya. Gadis tomboy itu terlihat sangat tampan dimataku. Dia selalu ada
untuk Anyeu, Ma.
            Rasa
ini memang tak wajar, tapi aku tetap ingin bersamanya, bersama orang yang aku
cintai, Erika Anatasya Permana. Biarlah kami menyimpan hubungan ini berdua. Sekalipun
kami saling mencintai, toh pada akhirnya kami tak akan bisa bersatu selamanya. Pada
saatnya nanti, kami akan berpisah, di pisahkan waktu serta keadaan. Biarlah
kami menikmati cinta terlarang ini selama kami masih bisa menikmatinya.

Leave a Comment