Sepatu yang Mempertemukan Kita Kembali

No Comments

Photo of author

By Gemaulani

             Cinta, perasaan itu muncul secara
tiba-tiba seiring kedekatan mereka dalam organisasi di sekolah. Perasaan itu telah
mengubah sedikit demi sedikit kebiasaan buruk Dee. Cinta mampu mengubah Dee
yang cuek serta tomboy hampir 180 derajat. Diaz, cowok berpostur tubuh ideal beserta
alis mata tebalnya mampu mencairkan hati Dee.
            “Kamu
ngapain liatin aku kayak gitu, Di?” Dee sedikit salah tingkah dan heran karena
sejak tadi Diaz tak henti menatapnya.
            Diaz
belum menjawab pertanyaan Dee, dia masih terjaga di dalam lamunannya dan
sesekali tersenyum manis. Ya, senyuman Diaz sangat manis dan membuat Dee
semakin jatuh cinta.
            “Heh,
ditanyain malah senyam senyum.. jangan-jangan kamu naksir aku ya, dari tadi
liatin aku terus!” Dee mencubit tangan kanan Diaz yang menopang dagunya.
               ‘Aaaargh’
Diaz meringis kesakitan.
            “Apaan
sih Dee, Geer banget kamu. Gak mungkinlah aku suka sama cewek kayak kamu.
Cantik sih tapi kelakuannya preman!”.
          “Jadi, Diaz gak punya perasaan yang sama
kayak aku. Dia bilang kelakuan aku kayak preman, padahal aku udah bela-belain
ngubah penampilan aku demi dia”
ucap Dee dalam hati.
            “Yee,
malah giliran dia yang ngelamun!” protes Diaz yang melempar sebuah sedotan ke arah
Dee.
            “Terus
kamu ngeliatin apaan?”.
            Diaz
meminta Dee untuk berbalik dan mengikuti arah jari telunjuknya. Jari Diaz
mengarah pada Sabrina, cewek terpopuler di sekolah sama halnya seperti Diaz
yang digandrungi para cewek di sekolah. Ini membuat hati Dee terluka, dia baru
sadar kalau Diaz takkan pernah mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Jelas-jelas Dee bukan kriteria cewek yang disukai Diaz. Dee juga menyadari jika
perubahan kepribadiannya tak berarti sama sekali di mata Diaz.
            “Cantik,
ya?” Diaz tersenyum ketika Dee membalikkan lagi badannya.
            Dee
hanya mengangguk dan tersenyum pahit. Hatinya benar-benar hancur, apalagi
mendengar pujian untuk Sabrina serta senyuman Diaz yang mengembang sempurna.
            “Mmm,
aku ke ruang osis dulu ya, tadi kayaknya lupa matiin komputer”.
            Dee
bergegas meninggalkan Diaz, dia tak mau Diaz melihat airmatanya yang sebentar
lagi akan meluncur. “Kenapa kamu pergi
Dee? Apa bener kata anak-anak kalau kamu juga jatuh cinta sama aku?apa kamu
cemburu Dee? Andai aja aku gak pernah denger kamu berjanji gak akan pacaran
sampai kamu lulus kuliah nanti. Aku pasti bilang kalau aku suka dan sayang sama
kamu. Aku pengen kamu jadi pacar aku, bukan sekedar sahabat”
ucap Diaz yang
memandang kepergian Dee dengan pilu.
Sebenarnya Diaz
memandangi Dee sejak tadi, perubahan Dee membuat Diaz semakin jatuh cinta pada
Dee, bukan Sabrina. Diaz hanya ingin tahu reaksi Dee dan Diaz tidak ingin Dee
tahu kalau sebenarnya dia mencintai Dee.

***
Sudah satu bulan lamanya Diaz resmi
berpacaran dengan Sabrina dan menenggelamkan gosip yang selama ini beredar
tentang hubungan Diaz dan Dee. Dee tetap tersenyum dan memberikan selamat
kepada Diaz, meskipun hatinya perih. Lambat laun Dee memutuskan untuk menjaga
jarak dengan Diaz. Dia kembali membangun tembok dihatinya secara perlahan. Dee
berharap dengan cara seperti ini dia bisa melupakan Diaz dan berhenti mencintai
Diaz walaupun sebenarnya Dee berharap kalau dia yang ada dihati Diaz, bukan
Sabrina.
“Dee,
nanti sore temenin aku ke toko buku ya, terus aku traktir kamu makan sama
nonton deh. Udah lama kan kita nggak jalan bareng” Diaz tersenyum dan berdiri
dihadapan Dee, menahan langkah kaki Dee menuju ke ruangan osis.
“Maaf
Di, aku udah ada janji sama mama aku. Kamu mending minta temeninnya sama Bina”
Dee berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan serta rasa gugupnya.
 “Aku
maunya sama kamu Dee, kenapa sih semenjak aku pacaran sama Bina kamu itu selalu
menghindar dan jaga jarak sama aku?”.
“Kamu
cemburu?” tanya Diaz lagi.
Dee
terdiam sejenak, matanya mulai berkaca-kaca. Namun, beberapa detik kemudian dia
tertawa kecil. ‘hahahaha’.
“Ngaco
deh. Ngapain juga aku cemburu sama kamu. Dari dulu aku cuma nganggep kamu
sahabat kok. Lagian aku nggak pernah punya perasaan sama kamu. Aku itu cuma
nggak mau Bina salah paham sama aku. Ya, kamu tau sendiri kan di sekolah ini
banyak biang gosip. Aku nggak mau ada berita aneh-aneh tentang kita, Di!” Dee
mencoba menegarkan hatinya dan menutupi kesedihannya. Berharap airmatanya bisa
tertahan cukup lama.
“Kamu bohong kan Dee? Ayo bilang sama aku
Dee kalau kamu bohong. Bilang Dee kalau kamu itu sebenernya cinta sama aku, ayo
Dee”
Diaz menatap Dee penuh harap.
“Diaz!”
Bina memanggil Diaz dari arah perpustakaan dan melambaikan tangannya sambil tersenyum.
“Tuh,
Bina manggil, aku ke ruangan osis dulu ya”.
Dee
membalikkan badannya, meninggalkan Diaz dengan langkah yang pelan. Kakinya
terasa berat, butiran airmata mulai berjatuhan satu persatu tanpa bisa di bending
lagi.
“Dee…!”
“Dee….!”
Dee tidak menghiraukan
panggilan Diaz, dia berusaha mempercepat langkahnya untuk menjauh dari Diaz dan
bersembunyi dibelakang tembok lab Biologi. Dee menumpahkan airmata kepedihannya
sampai beberapa detik kemudian menghapus airmata itu dan bersikap seperti biasa
lagi, kuat dan tegar.
“Dee, apa aku harus teriak kalau aku sayang
dan cinta sama kamu sekarang. Aku sama Sabrina sebenernya nggak pacaran Dee,
aku cuma pengen kamu ngaku kalau kamu juga suka sama aku. Aku nggak akan lelah
buat nunggu kamu sampai kamu lulus kuliah nanti, Dee. Aku janji”
teriak
Diaz didalam hatinya.

***
Satu tahun kemudian
Hari ini adalah hari
ulangtahun Dee dan Diaz, bertepatan dengan hari perpisahan mereka di sekolah
karena tiga hari yang lalu semua siswa angkatan 2007 di nyatakan telah lulus
ujian nasional.
“Dee,
ada kiriman nih buat kamu, bunganya hampir layu kena sinar matahari di depan
gerbang rumah kita” ibu Mia meletakkan buket mawar serta kotak kado untuk Dee
di atas meja kerjanya.
 “Dari
siapa ma?” kening Dee berkerut, pasalnya baru kali ini ada kiriman bunga
untuknya.
Ibu
Mia menggeleng dan meneruskan kembali pekerjaannya untuk menyelesaikan gaun
pengantin pesanan kliennya.
Dee
membuka kartu ucapan yang melekat pada buket mawar itu.
“Hai, Dee.. Happy birthday.. semoga kamu
semakin dekat dengan cita-citamu menjadi seorang designer
J. Selamat untuk kelulusannya, dan
juga kelulusan masuk PTN di jurusan yang kamu mau
-DD-“
Dee segera
membuka kotak kado itu, ternyata isinya sebuah sepatu kets berwarna biru yang
Dee inginkan beberapa bulan lalu, namun belum sempat dia beli. Di dalamnya ada
sebuah surat kecil bertuliskan : “Pakai
sepatu ini kemanapun kamu melangkah, sejauh apapun kamu pergi, sepatu ini akan
membawa kamu menemuiku suatu hari nanti, Dee”.
“Dari siapa
sayang?”.
“Ngga
tau ma, gak jelas.. tapi isinya sih sepatu kets yang aku pengen”.
 “Yaudah
pake aja nanti malem di acara perpisahan kamu, paduin sama gaun cantik dari
mama” ibu Mia tersenyum dan mengecup kening putri kesayangannya sambil
memberikan sebuah gaun berwarna putih hasil rancangnya, khusus untuk Dee.
   “Makasih
ya, ma” Dee mencium kedua pipi mamanya dan memeluknya dengan erat.
  “Siapapun kamu.. aku berterimakasih untuk
kado indah ini. Ini pertamakalinya aku dapet bunga mawar putih”
Dee
tersenyum dalam pelukan mamanya.
  Sementara
itu Diaz tengah menikmati kue kiriman Dee serta membuka bungkusan kado berwarna
biru itu. Ada sebuah kamera digital serta surat kecil di dalamnya.
“Hallo
Diaz, selamat ulang tahun ya dan selamat atas kelulusannya.. semoga sukses
melanjutkan studi di negeri Kangguru
J, Potret apapun yang kamu mau,
termasuk seseorang yang spesial untukmu. Semoga suatu hari nanti kamu akan
memotret aku…”
.
Detik-detik
perpisahan itu semakin dekat. Ada dua hati yang memendam kesedihan mereka
sendiri diantara kebahagiaan yang mengelilingi mereka malam ini. Dee tampil
sangat menawan, dia terlihat semakin cantik dan peminim dengan balutan gaun berwarna
putih rancangan mamanya yang dipadukan dengan sepatu kets pemberian Diaz. Diaz
terpana menatap Dee, dia tak henti-hentinya memotret seluruh gerak gerik Dee,
dia bahagia melihat Dee mengenakan sepatu pemberiannya malam ini.
Mereka
saling mencuri pandang, Dee tersenyum melihat Diaz yang memakai kamera
pemberiannya untuk mengabadikan momen indah malam ini. Momen perpisahan yang
akan membuat jarak mereka semakin jauh. Mereka masih enggan saling menyapa,
sejak Diaz bersama Sabrina, Dee tidak ingin ikut campur lagi ke dalam kehidupan
Diaz.
“Ok,
guys.. diakhir acara malem ini, aku Prita mau ngucapin selamat atas kelulusan
kita semua dan semoga kita semua sukses yaa. Kenangan tentang kalian bakalan
selalu aku ingat sampai tua. Oh iya, aku mau ngucapin selamat ulang tahun untuk
dua temen kita yang cukup populer di sekolah. Selamat ulang tahun ya Dee dan
Diaz”.
 “Ayolah
Dee, ucapin selamat ulang tahun dan satu kalimat perpisahan aja buat Diaz,
sebelum kamu nyesel” bisik Salsa.
 “Hei,
Dee” Diaz terlebih dahulu menghampiri Dee.
  “Hei”
senyum Dee terlihat kaku.
 “Selamat
ulang tahun ya, dan selamat jadi anak kuliahan. Aku denger kamu lulus di PTN
dengan jurusan yang kamu mau” Diaz mengulurkan tangannya kepada Dee dan
tersenyum manis.
  “Kenapa rasanya hati ini gak rela buat pisah
jauh sama kamu yang bakalan lanjutin kuliah di Australia. Kenapa rasa cintaku
gak pernah berkurang sedikitpun padahal aku udah berusaha buat lupain kamu
selama setahun ini”.

***    

Enam
tahun kemudian….
Dee
berhasil mewujudkan keinginannya. Dia menjadi designer terkenal seperti
mamanya. Rancangan bajunya sangat populer dikalangan anak muda. Namun,
kebahagiaannya masih terasa kurang, hatinya masih kosong.. belum terisi oleh
siapapun. Hanya sisa kenangan Diaz yang masih terukir disana. Sepatu pemberian
penggemar rahasianya itu masih dia pakai walaupun warnanya sudah sangat pudar.
 “Ini udah tahun keenam aku pake sepatu
pemberian kamu yang entah siapa. Aku ngikutin kata-kata kamu untuk terus pake
sepatu ini dengan harapan aku bisa tahu siapa kamu”
ucap Dee di dalam
hatinya.
   “Idih,
sepatu butut gitu masih aja di pake dan diliatin terus!” protes Salsa.
  “Sepatu
ini tuh spesial Sa, gak akan aku pensiunin sebelum aku ketemu siapa yang ngasih
sepatu ini buat aku!”.
   “Kalau
orangnya udah lupa, gimana? Atau udah almarhum?”.
    “Ih
Salsa… mulutnya”.
     Salsa
tersenyum manis “Maaf, kan cuma menduga-duga”.
     “Udah
ah, mendingan kita pulang aja. Aku udah capek” Dee segera mengambil tasnya dan
keluar dari butik milik ibunya.
   Karena
jarak butik dengan rumah tidak begitu jauh, Dee lebih memilih naik angkutan
umum atau berjalan kaki. Untuk malam ini, dia memutuskan untuk berjalan kaki, menikmati lampu penerangan yang temaram dikota Bandung.
Di seberang jalan sebelum kompleks perumahannya Dee melihat ada banyak kembang
api yang bertabur menghiasi langit malam. Ternyata ada pasar malam, Dee
terlihat sangat girang dan bergegas menuju kesana. Pasar malam ini kembali
hadir disana setelah sekian tahun lamanya. Dee pernah kesana bersama Diaz, saat
mereka masih dekat.
    “Dee,
ngapain sih kesini?!” protes Salsa.
   “Udah
deh diem aja, aku itu pengen naik bianglala, main tembak-tembakan yang hadiahnya
boneka terus makan gulali sama arum manis” Dee berlari-lari kecil dan terlihat
riang gembira, sampai tak sengaja menginjak kaki seorang laki-laki yang sedang asyik
memotret dengan kamera digital yang sudah ketinggalan zaman.
   “Maaf,
nggak sengaja” Dee memejamkan matanya karena tidak ingin melihat wajah penuh
kemarahan dari orang yang kakinya terinjak.
   Diaz
belum menatap Dee, dia masih membersihkan sepatunya yang terinjak, Diaz
terlihat kaget begitu melihat sepasang sepatu kets lusuh dihadapannya. Dia
masih ingat kalau sepatu itu pernah dibelinya dan diberikan kepada Dee, wanita
spesial yang masih menempati seluruh ruang dihatinya.
 “Sepatu…”
Diaz berucap pelan.
 “Dee? Apa aku nggak salah liat? Apa ini
halusinasi aku aja?”.
  Dari kejauhan
Salsa tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Diaz. “Kalau cinta dan jodoh itu emang gak kemana ya” ucap Salsa dalam
hati.
  Kini
Diaz yakin kalau wanita dengan sepatu kets lusuh dihadapannya itu adalah Dee.

  “Bener kan kata aku, kalau kamu pakai
sepatu itu kemana pun kamu melangkah, suatu hari nanti sepatu itu bakalan
ngebawa kamu buat nemuin pemiliknya”

            Dee mendongak “Diaz?”.

            Diaz
mengangguk dan tersenyum.
            “Jadi
kamu yang ngasih aku sepatu ini?”.
            “Iya,
hebatkan aku bisa bikin designer terkenal pake sepatu butut kemana-mana?”
          “Ih,
nyebelin ya.. kamu tega banget nyuruh aku nunggu lama, nyuruh sepatu ini yang
nganterin aku buat nemuin kamu. Kalau ketemunya 50 tahun lagi gimana, coba?”.
         “Ah
lebay banget sih kamu, Dee.. aku pengen tau aja, kamu bakalan ngehargain
pemberian dari orang yang cuma ngasih inisial gak jelas atau nggak. Dan
sekarang aku yakin kalau kamu beneran cinta dan suka kan sama aku?”.
         Wajah
Dee terlihat merah padam, tebakan Diaz memang benar. Dee masih mencintainya
bahkan sampai saat ini.
            “Kamu
juga, buktinya masih pake kamera yang aku kirim” Dee membalas ucapan Diaz.
         “Aku
emang suka, sayang dan cinta sama yang namanya Dee dari dulu. Sampai-sampai aku
setia banget ngejomblo selama 9 tahun”.
            “Masa?”.
            “Iya,
cewek preman yang cantik!”.
            “Kamu
kan dulu pacaran sama Bina!”.
         ‘Hahahaha’
Diaz tertawa geli mendengar pernyataan Dee tentang status hubungan palsunya
dengan Bina. Sementara itu Dee terlihat kesal sekaligus bahagia mendengar
pengakuan Diaz. Akhirnya keduanya sama-sama mengakui kalau mereka menyimpan
rasa sayang dan suka mereka selama bertahun-tahun.
           “Terus
kenapa kamu nggak bilang dari dulu?” tanya Dee yang kini tengah menikmati
bianglala bersama Diaz sambil memakan arum manis yang sengaja dibeli Diaz
untuknya.
            “Kenapa
ya? Kok kamu malah nanya aku sih?”.
          “Ih,
kan kamu yang tahu jawabannya Diaz” Dee membalikkan wajahnya dan menatap Diaz
dengan kesal.
           “Kamu
tambah lucu deh kalau marah” goda Diaz.

            “Jawabannya
itu karena kamu ngomong sama aku kalau kamu nggak mau punya pacar sampai lulus
kuliah nanti. Yaudah aku simpen aja perasaan aku dan aku tunggu saat yang
tepat. Saat Tuhan mempertemukan kita kembali dengan perasaan yang masih sama
seperti dulu”.
          Dee
terharu mendengar kata-kata yang Diaz lontarkan. Dia menitikkan airmata
kebahagiaannya dihadapan Diaz. Diaz segera menghapus airmata itu dengan kedua tangannya.
Beberapa saat kemudian dia mengeluarkan satu tangkai bunga mawar putih serta
kotak kecil dari dalam jaket yang dia kenakan.
          “Sekarang,
kamu mau ngga jadi istri aku? Nemenin sekaligus mencintai aku selama-lamanya?”
Diaz mengenggam kedua tangan Dee dan menunggu jawaban iya dari bibir mungil
itu.
            “Hah?”.
          “Kok
malah hah, sih! Aku itu ngelamar kamu buat jadi pendamping hidup aku yang
pertama dan terakhir, yang bakalan setia nemenin aku sampai mata aku nggak
terbuka lagi”
            Dee
mengangguk dan tersenyum. Dia menerima lamaran Diaz, akhirnya cinta itu
benar-benar terbalas. Rasa sakit dan kepedihan itu kini sirna dan tergantikan
oleh kebahagiaan yang tidak terkira dari Diaz. Dee tidak perlu lagi bermimpi
untuk bisa dicintai Diaz, semuanya nyata dan ada di depan mata. Penantian
panjang itu tidak berakhir dengan kesia-siaan dan sepatu itu benar-benar
menuntun Dee untuk menemukan pengirimnya sekaligus cintanya.

Leave a Comment