Tak ada Kantor Pos, JNE pun jadi

No Comments

Photo of author

By Gemaulani

  Kejadian nyata yang di ubah sedikit jadi fiktif 😀   
            Karena
terus di sibukkan dengan jadwal kuliah serta tugas yang padat merayap kayak
jalanan di Bandung kalau akhir pekan tiba, jadinya aku belum sempat
menyelesaikan naskah lomba yang deadlinenya hari ini untuk dikirim ke penerbit
xxx.. Akhirnya aku lanjut nulis sebelum masuk kelas. Ini tangan rasanya pegel
banget, berasa mau putus. Padahal baru nulis lima lembar, iya lima lembar
setelah lima puluh lembar sampai pagi.
“Masih belum selesai juga, Neng?” Nunung
berlagak seperti mandor.
“Iya, mana hari ini deadline Nung,
bantuin dong!”.
“Sini aku bantuin ngetik” sambung Nining
yang kebetulan otaknya nggak loading.
“Eh, nggak bisa deh, kalaupun kamu
ngetik di laptop kamu.. aku kan mesti ngedikte ceritanya.. soalnya ini belum
pernah aku tulis di kertas”. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kenapa
nggak kepikiran dari sebulan yang lalu buat nulis dulu di kertas setengah dari
cerita ini jadi kan bisa dapet pertolongan dari para pasukan ini.
            Aku mencuri-curi kesempatan untuk
mengetik secara perlahan agar tidak menimbulkan bunyi saat pak dosen
menjelaskan materi hari ini. Hasilnya sih lumayan, dapet 15 lembar sampai jam
istirahat tiba, tapi malunya juga lumayan gara-gara nggak nyambung waktu
ditanya dosen. Dosen bahas usecase, aku jawab context diagram.. yaiyalah
penghuni kelas pada ngakak semuanya, bikin mukaku ini terlihat seperti tomat busuk.
Nulis di kantin pun gak tuntas gara-gara batre laptopnya lowbat.
         “Nung, aku boleh numpang ngeprint
ya? Pliss” ucapku dengan wajah memelas.
         “Berapa lembar, Neng?”.
        “Ya, segini.. seratus lima puluh
lembar tapi yang selesai baru 130 lembar” aku nyengir, berharap Nunung
dibukakan mata, hati dan pikirannya.
      Nunung lagi mikir keras, nampaknya
dia sedikit keberatan. Yaiyalah secara 150 lembar gitu, printerannya aja bisa
pingsan kalau di print sekaligus. Tapi kalau ngeprint di luar itu bisa nguras
kantong yang udah tipis ini di akhir bulan. Jadi Nunung adalah harapanku
satu-satunya.
      “Hore.. Hore.. Hore” aku kegirangan
dan berterima kasih sekali kepada Nunung yang mau mencetak naskah ini secara
gratis.
       Dan akhirnya naskah lomba ini
selesai aku tulis dan print. Dengan semangat 45 aku memasukkan lembaran kertas
serta persyaratannya kedalam amplop cokelat itu. ‘Gubrak’, Naskah itu jatuh
dari tangan ini ke lantai kamar kost Nunung yang putih bersih itu.
“Kenapa, Neng? Kok dijatuhin?”.
            “Udah jam lima, Nung.. kantor posnya
udah tutup dong!”
            “Yaudah sih kirim lewat JNE aja”.
          Akhirnya
karena mubazir, aku mengikuti ide gila Nunung, ngirimin naskah ini lewat JNE
padahal udah jelas-jelas disyaratnya bilang “cap pos” bukan yang lain. Entahlah
itu naskah bakalan di terima atau ngga. “enk-ink-enk”.. Besoknya aku kaget waktu
tau lombanya di undur satu minggu. Dari situlah aku belajar untuk menyelesaikan
tulisan lebih awal dari deadline dan nulis lagi di kertas bukan ngetik langsung
di komputer. Dan pastinya lebih sering liatin situs penyelenggara lomba, siapa
tau aja lombanya di undur atau di percepat.

Leave a Comment